Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan yang terjadi pada Rabu kemarin (5/10), merupakan curah hujan tertinggi hingga mencapai 188.7 mm.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis mengatakan curah hujan yang mengguyur Palembang sejak Rabu sore hingga malam hari, yang terakumulasi pada Kamis pagi (6/10) merupakan curah hujan ekstrem tertinggi setiap bulan Oktober.
“Curah hujan ini tercatat tertinggi sejak tahun 1980 lalu di Bulan Oktober,” katanya dikutip dari keterangan resminya, Kamis (6/10).
Dia menerangkan, di 6 Oktober 1980 lalu curah hujan tertinggi hanya mencapai 137 mm. Sedangkan, di tahun 2022 yakni mencapai 188,7 mm. Meski demikian, curah hujan yang terjadi kemarin merupakan curah hujan tertinggi kedua. Dimana, curah hujan tertinggi pertama terjadi pada 5 Maret 2002 dengan angka 215 mm.
Menurutnya, potensi hujan ekstrem pada Oktober ini masih akan terus terjadi. Hal ini dikarenakan, masih menguatnya La Nina dan IOD negatif yang mendorong peningkatan curah hujan selama musim hujan 2022-2023. “Fenomena cuaca skala sinoptik dan lokal merupakan faktor-faktor pendorong terjadinya hujan ekstrem tersebut,” ujarnya.
Dia mengimbau, saat ini secara umum Sumsel telah berada pada periode musim hujan dengan prakiraan sifat hujannya sebagian besar di atas normal. Artinya selama musim hujan 2022-2023 curah hujannya akan berada di atas rata-ratanya.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan resiko bencana hidromoteorologis seperti banjir dan tanah longsor. “Kami imbau untuk meningkatkan kewaspadaan serta terus memantau peringatan dini BMKG dan himbauan dan pemerintah setempat,” pungkasnya.

