Conie Sema seorang sastrawan asal Palembang menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Hermina Palembang, Kamis (8/9), pukul 17.20 WIB.
Pemimpin Teater Potlot ini sempat menjalani operasi Laparascopy pada 15 Agustus lalu, yaitu penyedotan cairan di sekitar hati di RSUD Muhammad Husein Palembang.
Meninggalnya teaterwan ini meninggalkan duka baik keluarga hingga para seniman di Kota Palembang. Banyak kenangan yang tak terlupa bersama penyair ini.
“Conie itu orangnya menarik dan paling enak diajak bicara. Bahkan, bisa sampe pagi,” kata Perintis Teater Potlot, Tako BM saat ditemui di rumah duka di Palembang.
Sosok Conie ini merupakan nyawanya teater potlot, beliau orang yang tegas dan juga disiplin. Dia menceritakan saat merintis teater potlot, bukan sebuah hal yang mudah. Saat itu, dia bersama Conie dan para seniman lainnya sangat sulit untuk makan. Tak hanya itu, rokok pun harus berbagi. Namun, berkat keuletan dan displin bersama teater potlot berjalan dengan baik. Bahkan, cukup mendunia.
“Teater Potlot sempat kerjasama dengan USAID, dan pernah mementaskan teater di 100 kota di Lampung yang didanai oleh Amerika,” terangnya.
Usai merintis Teater Potlot, Conie memilih untuk beristirahat dan pindah ke Lampung. Sementara, dirinya melanjutkan menulis. “Conie ini juga sempat kerja di beberapa media besar seperti di RCTI Lampung,” ujarnya.
Suami Bisri Merduani ini juga dikenal sebagai motivator yang kritis, khususnya untuk memotivasi anak muda. Hal ini diungkapkan Senior Teater Potlot, Warman.
“Banyak cerita yang baik tentang Conie ini,” timpanya.
Hidupkan Teater Potlot dengan Pentas Keliling
Perjuangan untuk menghidupkan Teater Potlot bukan suatu hal yang mudah. Bahkan, Conie melakukan pentas keliling.
Hal ini diceritakan oleh sang adik, Ferdiansyah.
Dia menceritakan mereka menghidupkan kembali teater potlot ini sejak tahun 1998, dengan cara melakukan pentas keliling. Dia bersama sang kakak Conie dan Udi sebagai arsitek dalam setiap teater yang dipentaskan.
“Dia ini sangat antusias sekali memajukan seni khususnya di Palembang, karya pertama yang dipentaskan tentang Hutan Gribig dan Hutan Baru di Lampung,” katanya.
Menurutnya, sang kakak itu, sangat senang bergaul dengan anak muda terutama di dunia teater, seni rupa, bahkan seni tari. Dia juga sangat ramah dan pintar menahan emosi dan lebih cenderung untuk mendidik.
“Dari zaman ke zaman dia selalu dikumuni oleh orang yang menyukai seni,” kata sang adik.
Meski telah berpulang, Conie masih tetap melekat di Teater Potlot. Beliau juga meninggalkan karya terakhir yaitu Festival Teater Sumatera 1 dan 2. Dimana, 12 kelompok teater berkumpul di Palembang. Dia juga sempat akan membuat proyek seni yaitu Festival Pindang yang berjudul ‘Menjaga Sungai dari Dapur Ibu’
“Nanti yang akan mementaskannya kerjasama dengan PGRI dan UIN,” terangnya sembari mengatakan teater potlot ini akan terus berjalan. Selamat jalan sang sastrawan Palembang, Conie Sema.

