RELUNG.ID – Di tengah kabut asap yang semakin pekat menyelimuti Kota Palembang, pernyataan Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengenai kondisi udara justru menuai sorotan.
Ketika ditanya mengenai kondisi udara Palembang yang memburuk akibat kabut asap karhutla, Ratu Dewa mengaku dirinya masih merasa enjoy. Ia bahkan menyebut aktivitas olahraga tetap berjalan seperti biasa.
Melansir IDN Times, pernyataan tersebut disampaikan Ratu Dewa kepada wartawan saat ditemui di Griya Agung Palembang, Senin (5/10/2026).
“Kalau saya sebenarnya sih ya, sampai sekarang tidak ya, karena mungkin saya enjoy-enjoy saja,” ujar Ratu Dewa.
Dalam video wawancara yang kemudian beredar luas dan diunggah ulang oleh sejumlah akun media sosial, Ratu Dewa juga mengakui menerima banyak laporan masyarakat yang mulai terganggu dengan kabut asap, termasuk keluhan sesak napas.
Namun, kondisi tersebut disebut tidak membuat aktivitas pribadinya berhenti. “Terus aktivitas olahraga masih rutin,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul ketika kondisi udara Palembang sedang menjadi perhatian serius. Pada hari yang sama, kualitas udara dilaporkan berada pada kategori berbahaya, dengan konsentrasi polutan jauh melampaui ambang aman.
Di tengah kondisi tersebut, keluhan warga juga semakin nyata. Mata perih, batuk hingga sesak napas menjadi keluhan yang muncul ketika kabut asap semakin tebal, terutama pada sore hingga malam hari. Banyak masyarakat yang menderita ISPA bahkan ada yang kehilangan nyawa.
Situasi ini menempatkan pernyataan kepala daerah dalam sorotan karena pengalaman pribadi seorang pejabat tentu tidak serta-merta menggambarkan kondisi yang dialami seluruh masyarakat.
Pemerintah Kota Palembang sendiri menyatakan sedang menyiapkan regulasi berupa Peraturan Wali Kota (Perwali) untuk memberikan sanksi kepada pemilik lahan, baik perorangan maupun perusahaan, apabila terbukti menyebabkan kebakaran.
Namun bagi warga yang setiap hari harus menghirup asap, persoalannya bukan hanya mengenai regulasi yang sedang disiapkan. Mereka membutuhkan udara yang aman untuk dihirup.
Dinilai Tak Menunjukkan Sense of Crisis
Pengamat sosial Bagindo Togar menilai pernyataan Ratu Dewa menunjukkan persoalan empati sosial dan cara pemerintah membaca situasi yang sedang dihadapi masyarakat.
“Inilah kalau pemimpin tidak punya rasa empati sosial dan tidak memiliki sense of crisis. Ketika masyarakat mengeluhkan sesak napas dan kualitas udara memburuk, pemimpin justru mengatakan dirinya masih enjoy dan tetap bisa berolahraga,” kata Bagindo.
Menurutnya, kepala daerah semestinya tidak mengukur kondisi berdasarkan pengalaman pribadi, melainkan melihat situasi berdasarkan indikator kesehatan, kualitas udara dan kondisi masyarakat secara keseluruhan.
Terlebih, kabut asap telah menimbulkan keluhan kesehatan di tengah masyarakat dan kasus ISPA juga mengalami peningkatan.
“Kalau wali kota masih bisa menikmati olahraga di tengah kondisi udara yang membahayakan, itu menunjukkan ada jarak antara apa yang dirasakan pemerintah dan apa yang dialami warga. Tidak bisa ukuran kondisi udara hanya berdasarkan apakah wali kota merasa nyaman atau tidak,” tegasnya.
Bagindo mengatakan kondisi kabut asap seharusnya diperlakukan sebagai situasi yang membutuhkan respons cepat dan terukur.
Menurutnya, dampak kabut asap tidak semata-mata menyangkut kenyamanan, tetapi juga kesehatan masyarakat sehingga respons pemerintah harus menunjukkan tingkat kewaspadaan yang sebanding dengan risiko yang dihadapi warga.
Ia juga mempertanyakan kondisi Ratu Dewa dalam menghadapi situasi tersebut. “Coba dicek dulu di tengah kabut asap saat ini apakah wali kota itu sehat kondisi psikologisnya. Jangan hanya fisik saja, jangan-jangan kondisi psikologisnya juga tidak sehat,” pungkasnya. (YSF)

