RELUNG.ID – Kabut asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhula) di Kota Palembang yang sempat membaik kini kembali memburuk.
Selasa (20/10/2026), kabut asap berdampak pada kualitas udara yang berbahaya dan jarak pandang sekitar 100 meter.
Berdasarkan data BMKG Sumsel, kualitas udara di Palembang pada pukul 08.00 WIB mencapai 314,8 µg/m³ untuk PM2,5. Dari pantauan, sejumlah kendaraan pun harus melaju dengan hati-hati. Lantaran, kondisi jarak pandang yang terbatas hanya sekitar 100 meter.
Kondisi ini menjadi pertanyaan terkait Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyebarkan 7,2 ton dry ice atau karbon dioksida (CO₂) padat hingga 18 Oktober 2026.
Penyemaian ini bertujuan untuk mengurangi kabut asap akibat karhutla. Meski demikian, kabut asap masih tetap terjadi akibat karhutla.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto menjelaskan, penyemaian dry ice bertujuan untuk memengaruhi kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap di bawah lapisan inversi dapat bergerak naik dan terurai.
Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu.
“Kondisi ini dapat menghambat pergerakan udara vertikal sehingga polutan, termasuk asap kebakaran, tertahan di dekat permukaan,” jelasnya.
Dia juga menambahkan, dry ice memiliki suhu sekitar minus 75 derajat Celsius. Suhu yang sangat rendah tersebut dimanfaatkan untuk mendinginkan udara secara cepat dengan harapan memengaruhi kondisi lapisan atmosfer yang menahan asap.
“Upaya ini juga diharapkan dapat membantu meningkatkan jarak pandang di wilayah yang terdampak kabut asap,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan dry ice menjadi salah satu pendekatan dalam rangkaian penanganan kabut asap di Sumsel. Operasi ini merupakan langkah pendahuluan sebelum penanganan melalui OMC menggunakan NaCl maupun pemadaman dari udara dengan helikopter water bombing.
Meski demikian, penyebaran material dan jumlah penerbangan belum dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan operasi.
Evaluasi perlu mempertimbangkan perubahan konsentrasi partikulat, terutama PM2.5 dan PM10, jarak pandang, kondisi atmosfer, serta perkembangan titik api di wilayah terdampak.
“OMC tidak menggantikan kebutuhan pemadaman sumber kebakaran. Selama karhutla masih berlangsung, asap berpotensi terus dihasilkan dan kembali memperburuk kualitas udara,” tutupnya.
Seperti diketahui, sebaran hotspot di Sumsel mencapai 753 titik. Di mana, hotspot terbanyak di wilayah OKI yaitu 347 titik dan disusul Musi Banyuasin (Muba) sebanyak 142 titik. (DSK)

