RELUNG.ID – Di tengah musim kemarau ini, hujan telah mengguyur beberapa daerah di Sumsel sejak beberapa hari terakhir.
Hal ini berhasil menurunkan tingkat hotspot yang signifikan di Sumsel.
Meski demikian, hujan ini belum mampu membasahi seluruh areal di kawasan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Baca Juga: Ini 5 Zodiak Tukang Perintah, Bikin Kesel Hati
Koordinator BMKG Sumsel, Wandayantolis mengatakan, hujan yang terjadi pada 18 Oktober hingga 21 Oktober lalu telah berhasil memperbaiki kualitas udara di beberapa daerah, khususnya di Palembang.
“Kualitas udara di Palembang dari tingkat berbahaya kini telah menjadi tingkat sedang,” katanya.
Walaupun telah diguyur hujan, berdasarkan prakiraan cuaca di dasarian ketiga bulan Oktober.
Baca Juga: Sensor Sony IMX900, Terobosan Baru di Industri Kamera
Wilayah Sumsel berpeluang hingga 90 persen terjadi curah hujan kategori rendah dan di bawah normal.
“Ini artinya akhir Oktober mendatang kondisi masih kering. Potensi hujan hanya muncul pada bagian tengah hingga ke barat dari Sumsel,” terangnya.
Kondisi ini berpotensi munculnya hotspot di wilayah Timur Sumsel, dan dapat mendorong asapnya ke wilayah Palembang hingga Musi Banyuasin (Muba).
Baca Juga: Ini Deretan Dosa Besar Boruto kepada Himawari
Potensi kering ini juga akan mengamplifikasi peningkatan suhu udara maksimum harian yang akan terasa lebih panas dan kering dari biasanya.
Pada tahun El Nino, suhu panas dengan tingkat ekstrem biasanya bergeser ke akhir Oktober hingga awal November.
“Kami imbau untuk terus waspada dan juga perlu terus menghindari aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran baik pada perumahan, lahan kebun dan juga hutan,” imbaunya sembari menyebutkan.
Baca Juga: Dalam Tiga Hari, Aksi Peduli Palestina di Lubuklinggau Kumpulkan Donasi Hingga Rp34 Juta
“Untuk mengantisipasi suhu panas, maka kurangin paparan langsung matahari, menggunakan pakaian berwarna lebih putih agar tidak menyerap cahaya matahari dan juga mengkonsumsi air putih guna menghindari dehidrasi,” pungkasnya.

