RELUNG.ID – Warga Muara Enim mengeluhkan debu yang berterbangan di sepanjang jalan lintas tengah Sumatera, atau tepatnya di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung hingga Muara Enim.
Debu ini diduga akibat sisa-sisa pengangkutan batubara yang beterbangan karena angin hingga menutupi jarak pandang pengendara.
“Ini berbahaya bagi pengendara karena debu ini menghalangi jarak pandang serta membuat pernapasan menjadi sempit serta mata pun pedih,” kata seorang pengguna jalan, Harry Chandra (36).
Karena itu, dia mengaku sangat terganggu dengan aktivitas kendaraan bertonase besar khususnya pengangkut batubara ini.
“Bayangkan saja jika naik angkutan pedesaan tentunya debu ini masuk ke tempat penumpang,” terangnya.
Terpisah, Ketua DPP LSM Gerakan Masyarakat Suka Lingkungan Hijau (Gemasulih), Andi Chandra meminta pemerintah peka terhadap kondisi dan dampak di lapangan akibat aktivitas kendaraan pengangkut pertambangan.
“Harus ada yang bertanggungjawab jangan masyarakat terus yang menjadi korban akibat aktivitas kendaraan batubara ini,” katanya.
Menurutnya, polusi bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit Ispa, mereka pun mempertanyakan, jika masyarakat sakit siapa yang akan bertanggungjawab, jika terjadi kecelakaan dan meninggal siapa yang harus bertanggungjawab.
Dia pun meminta pemerintah untuk meninjau ulang segala bentuk perizinan angkutan Batubara yang melintas di jalan negara karena dampak lingkungan, selain itu juga terkait keselamatan pengguna jalan lain saat berkendara.
“Kita harus malu dan sadar, bahwa Kabupaten ini adalah milih seluruh elemen masyarakat, semua memiliki haknya, jangan sampai kebebasan orang lain untuk menikmati kenyamanan berkendara, hidup sehat dan tenang terganggu oleh aktivitas angkutan Batu Bara yang tidak taat aturan,” pungkasnya. (NVS)

