RELUNG.ID – Bank Indonesia (BI) Sumatera Selatan (Sumsel) terus mendorong digitalisasi ekonomi dengan memperkenalkan sistem pembayaran non-tunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Sejak diluncurkan pada tahun 2019, penggunaan QRIS di Sumsel menunjukkan tren positif, dengan Palembang mendominasi penggunaannya hingga mencapai 63 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Ricky P. Gozali, menyatakan bahwa peningkatan transaksi keuangan digital melalui QRIS dapat mendorong penetrasi ekonomi wilayah dan mendukung pertumbuhan perdagangan yang stabil.
Saat ini, Sumsel menjadi provinsi dengan penggunaan QRIS tertinggi kedua di Sumatra, dengan lebih dari 844 ribu merchant yang telah menggunakan QRIS.
“Transaksi QRIS di Sumsel berada di peringkat pertama se-Sumatra, dengan penggunaan QRIS mencapai 844 ribu merchant, atau nomor dua terbanyak di Sumatra,” ujar Ricky dalam acara Festival Jajanan QRIS di Palembang Indah Mall, Jumat (16/8/2024).
Untuk menjangkau seluruh daerah, termasuk pelosok, BI Sumsel telah meluncurkan program inovasi “Jelajah QRIS” yang berfokus pada pengenalan sistem pembayaran non-tunai kepada generasi muda. Program ini baru-baru ini diadakan secara nasional oleh BI Sumsel.
Namun, meski QRIS berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi, Ricky mengakui bahwa penetrasi sistem non-tunai di pedesaan masih belum merata. Tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman masyarakat di pedesaan terhadap transaksi non-tunai. Ricky menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap QRIS.
“Masalah QRIS bukan hanya pada perangkat, tetapi juga kesiapan infrastruktur dan pengetahuan masyarakat. Oleh karena itu, kami terus mensosialisasikan agar masyarakat mau mencoba,” tutup Ricky.[AYK]

