RELUNG.ID – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumatera Selatan mencapai 5.243 kasus sepanjang Januari hingga 6 November 2024, meningkat tajam dibandingkan 2023 yang hanya mencatat 2.804 kasus.
Hal ini disampaikan oleh Pj Pengendali DBD Dinas Kesehatan Sumsel, Didid Haryanto. Meski jumlah kasus meningkat, tren kasus mulai menunjukkan penurunan sejak pertengahan tahun ini.
Menurut Didid, sejak Januari hingga Februari, kasus DBD melonjak tajam hingga mencapai 1.598 dan 1.227 kasus. Jumlah ini perlahan menurun dengan konfirmasi 96 kasus pada Oktober.
Namun, angka kematian masih mengkhawatirkan, dengan total 36 kasus di wilayah Sumsel. Kota Palembang mencatat angka kematian tertinggi, yaitu 14 kasus, terutama di wilayah padat penduduk seperti Makrayu dan Kenten.
Didid menambahkan bahwa keterlambatan penanganan di fasilitas kesehatan menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian. Seringkali pasien terlambat dibawa ke rumah sakit karena demam yang menurun dianggap sebagai tanda pemulihan, padahal itu masa kritis.
Dinas Kesehatan Sumsel terus mengedukasi masyarakat dan tenaga kesehatan untuk mengenali gejala DBD serta meningkatkan kesadaran akan bahaya penyakit ini.
Dengan tingginya curah hujan yang menciptakan banyak genangan air, Didid memperingatkan masyarakat untuk waspada karena hal ini mempercepat penyebaran nyamuk Aedes aegypti, vektor utama DBD. Puncak kasus diprediksi terjadi pada musim hujan yang berlangsung hingga awal tahun depan.
Dinas Kesehatan Sumsel kini menggencarkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di berbagai kabupaten dan kota guna mencegah lonjakan kasus di awal 2025.
“Musim penghujan seperti ini adalah saat yang tepat untuk terus melakukan PSN agar tidak terjadi lonjakan di musim hujan puncak nanti,” ungkap Didid.[AYK]

