RELUNG. ID — Light Rail Transit (LRT) Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) tak terasa sudah 6 tahun beroperasi menjadi bagian dari moda angkutan umum untuk melayani masyarakat Bumi Sriwijaya.
Dari awal pembangunan hingga kini beroperasi, kemungkinan masih banyak yang belum tahu sejarah Palembang mendapatkan moda tranportasi kereta ringan pertama di Indonesia.
Kali ini RELUNG.ID mengulas sejarah dan fakta-fakta terkait LRT, yuk simak :
Monorel sebelum LRT
Pembangunan LRT Palembang di mulai pada tahun 2015 dengan panjang 24,5 kilometer (km). Sebelumnya monorel yang direncanakan dibangun dengan jalur angkutan yakni Bandara Udara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang menuju Kompleks Olahraga Jakabaring Sport City (JSC).
Namun, dalam rangka menyambut Pesta Olahraga Asia 2018 di Palembang, rencana pembangunan monorel tersebut kemudian dibatalkan karena kesulitan mencari investor yang dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu serta proyek dianggap kurang menguntungkan.
Kemudian Monorel pun diganti dengan LRT yang dianggap lebih efektif. Pada 20 Oktober 2015 Presiden Joko Widodo menandatangani Perpres Nomor 116 Tahun 2015 tentang percepatan penyelenggaraan kereta api ringan di Sumatera Selatan.
Dalam Perpres tersebut, pemerintah menugaskan kepada PT Waskita Karya Tbk untuk membangun prasarana LRT meliputi jalur termasuk konstruksi jalur layang, stasiun dan fasilitas operasi. Pendanaan proyek di 2016 akan dibiayai PT Waskita Karya. Selanjutnya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan akan mengalokasikan anggaran pembiayaan proyek tersebut pada APBN 2017 dan 2018.
Presiden Sebut Pembangunan LRT Palembang Usulan Alex Noerdin
Proyek LRT di Palembang juga merupakan inisiasi dari Pemprov Sumsel dalam hal ini Alex Noerdin yang duduk sebagai Gubernur Sumsel. Usulan tersebut diberikan karena berdasarkan penelitian yang ada, kota Palembang akan mengalami macet total pada 2019 mendatang.
Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menyebut bahwa proyek ini diusulkan oleh Alex Noerdin.
Konstruksi LRT di Palembang Gunakan 95 Persen Bahan Lokal
Total anggaran pengerjaan proyek LRT Palembang mencapai 10,9 triliun. Dimana, seluruh dana yang digunakan adalah dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan pembayaran multiyears selama empat tahun, sampai tahun 2020 lalu.
Selain itu, Presiden Jokowi pernah menyebut bahwa konstruksi LRT di Palembang ini menggunakan 95% bahan lokal. Jokowi menyebut, hanya bagian mesin kereta saja yang 100% didatangkan dari Jerman.
1. Agustus 2018 LRT Operasi Penuh Bawa Penumpang
Pembangunan prasarana LRT Palembang selesai pada Februari 2018. Serangkaian uji coba dilaksanakan sejak Mei hingga Juli 2018, termasuk uji coba terbatas dengan penumpang pada 23-31 Juli 2018.
Operasi penuh LRT Palembang dimulai pada 1 Agustus 2018, dengan 6 stasiun prioritas dibuka untuk melayani penumpang dari dan menuju tempat pertandingan Pesta Olahraga Asia 2018 yakni JSC Palembang.
Jalur LRT Palembang sendiri, mempunyai total panjang 23,4 km dan menggunakan lebar jalur 1067 mm.
Untuk struktur bangunannya, terdiri dari jalur sebagian besar merupakan jalur layang, 13 stasiun, fasilitas operasi (termasuk 9 gardu listrik) dan 1 depo dengan kapasitas 14 train set yang masing-masing terdiri dari tiga kereta.
Masing-masing kereta mampu menampung sebanyak 180-250 penumpang. Untuk pengadaan sarana LRT dan pengoperasiannya sendiri ditugaskan kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero.
Kini dari rilis PT KAI Divre III yang diterima RELUNG.ID, pada 2023 lalu mencatat pencapaian LRT Palembang yang telah mengangkut 4.082.637 penumpang dengan rata-rata harian 11.185.

