RELUNG.ID — Sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dilaksanakan pada Senin (7/1/2025), pengusaha katering di Palembang menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi 2.928 siswa TK, SD, dan SMP pada tahap awal pelaksanaan. Program ini menuntut keberagaman menu dan pemenuhan standar gizi yang ketat sesuai pedoman pemerintah.
Pelaksana Program MBG, Muhammad Dicky Alghaffar, mengatakan bahwa seluruh menu telah disesuaikan dengan pedoman angka kecukupan gizi yang diatur oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“Menu yang disajikan selalu kami koordinasikan dengan BGN. Standar gizi yang kami gunakan sudah sesuai nilai baku yang ditetapkan pusat, dan daftar menunya dievaluasi secara berkala oleh BGN,” ujarnya, Selasa (7/1/2025).
Dicky juga menekankan pentingnya kehigienisan makanan. “Selain memenuhi nilai gizi, kehigienisan makanan menjadi prioritas karena dapur kami telah disertifikasi,” tambahnya.
Pada hari pertama pelaksanaan MBG, menu yang disajikan terdiri dari nasi, olahan daging ikan gabus, tempe buncis, dan pisang. Sementara pada hari kedua, menu berupa nasi, semangka, capcay, tahu, dan ayam asam manis.
“Kami terus melakukan evaluasi, termasuk memilih menu yang disukai anak-anak. Kami juga menjaga agar makanan tidak terlalu pedas, sehingga cocok untuk semua siswa,” jelas Dicky.
Terkait ketiadaan susu dalam menu MBG, Dicky menjelaskan bahwa saat ini penggunaan susu hanya diperbolehkan di wilayah sentra penghasil susu, seperti daerah dengan sapi perah.
“Untuk wilayah yang bukan penghasil susu, termasuk Palembang, penggunaan susu kemasan belum diperbolehkan karena dikhawatirkan menimbulkan permasalahan sampah. Sebagai gantinya, kandungan gizi dari susu disubstitusi dengan bahan setara seperti telur,” ungkapnya.[AYK]

