RELUNG.ID – Kendaraan listrik terus digaungkan pemerintah melalui berbagai program. Namun, di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), mobil listrik masih sepi peminat. Data penjualan dari Hyundai menunjukkan bahwa selama setahun terakhir, penjualan mobil listrik mereka di wilayah ini tidak mencapai 50 unit.
Menurut Brand Manager Hyundai Soekarno Hatta, Kgs Fikri, rendahnya minat masyarakat Sumsel terhadap mobil listrik disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu kendala utama adalah harga yang dinilai terlalu tinggi, serta minimnya fasilitas pengisian daya listrik atau charging station.
“Berbeda dengan Jakarta, di mana mobil listrik sudah menjadi kebutuhan, di Sumsel pengguna masih terbatas. Tempat pengisian daya yang kurang mendukung juga menjadi pertimbangan konsumen,” jelas Fikri saat diwawancarai pada Senin (20/1).
Sebagai alternatif, konsumen di Palembang lebih memilih mobil hybrid. Kendaraan jenis ini dianggap lebih praktis karena menggunakan kombinasi tenaga listrik dan bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, mobil hybrid lebih hemat energi dibandingkan mobil listrik murni.
“Banyak masyarakat yang memilih mobil hybrid karena bisa mengandalkan BBM saat *charging station* tidak tersedia,” tambahnya.
Hyundai, salah satu produsen kendaraan listrik yang aktif memasarkan produknya, menawarkan berbagai tipe mobil listrik, seperti Hyundai Ioniq 5, Ioniq 6, dan Kona EV. Untuk mobil hybrid, Hyundai memiliki varian seperti The New Tucson dan Santa FE.
“Dari berbagai tipe yang kami tawarkan, mobil listrik Santa FE menjadi yang paling diminati karena harganya lebih terjangkau dibandingkan model lainnya,” kata Fikri.
Hyundai Santa FE dibanderol dengan harga Rp764 juta per unit, sedangkan Kona EV dijual sekitar Rp600 juta lebih. Adapun Hyundai Ioniq 5 dan Ioniq 6 memiliki harga sekitar Rp850 juta, sementara The New Tucson hybrid dijual dengan harga Rp692 juta per unit.
Minimnya infrastruktur untuk mendukung kendaraan listrik di Sumsel menjadi tantangan besar bagi industri ini. Untuk menarik minat konsumen, perlu ada upaya dari pemerintah dan pihak swasta dalam memperluas jaringan *charging station* serta memberikan insentif yang lebih menarik.
“Dengan dukungan infrastruktur dan edukasi yang lebih masif, diharapkan mobil listrik ke depannya bisa lebih diterima oleh masyarakat, terutama di daerah seperti Sumsel,” tutup Fikri.
Meski penjualan mobil listrik masih lesu, optimisme tetap ada seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kendaraan ramah lingkungan. Mobil hybrid saat ini menjadi jembatan bagi konsumen di Sumsel untuk beralih ke kendaraan listrik sepenuhnya di masa depan.[AYK]

