RELUNG.ID – Harga berbagai komoditas menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada penutupan perdagangan Senin (20/1), usai pelantikan Presiden AS Donald Trump untuk masa jabatan keduanya. Kebijakan baru yang diumumkan Trump di sektor energi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika harga di pasar global.
Minyak Mentah Turun Akibat Kebijakan Baru
Harga minyak mentah mencatat penurunan signifikan, dengan minyak Brent turun 0,8 persen menjadi USD 80,15 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) lebih tertekan, merosot 1,7 persen menjadi USD 76,58 per barel. Kebijakan Trump yang menetapkan keadaan darurat energi nasional dan janji mengisi cadangan strategis serta mengekspor energi Amerika menjadi pemicu utama penurunan ini.
Penurunan ini terjadi di tengah penutupan awal perdagangan karena libur Hari Martin Luther King Jr. di AS, sehingga pasar global masih mencermati langkah lanjutan dari kebijakan tersebut.
Batu Bara Menguat di Tengah Produksi Tinggi
Sementara itu, harga batu bara menunjukkan penguatan, naik 0,77 persen menjadi USD 114,70 per ton. Meski demikian, lonjakan produksi global, khususnya di China, menjadi tantangan bagi harga untuk naik lebih tinggi. Produksi batu bara China diperkirakan tumbuh 1,5 persen hingga mencapai 4,82 miliar ton pada 2025.
Namun, curah hujan tinggi di wilayah manufaktur utama China telah meningkatkan penggunaan tenaga hidroelektrik, yang mengurangi permintaan batu bara sebagai bahan bakar thermal.
Minyak Kelapa Sawit Stabil, Tapi Tertahan Permintaan Lemah
Harga minyak kelapa sawit (CPO) mencatat kenaikan tipis 0,40 persen menjadi MYR 4.223 per ton. Di sisi lain, lemahnya permintaan dari India dan penurunan pengiriman Malaysia hingga 23,7 persen pada Januari menahan potensi kenaikan lebih lanjut.
Selain itu, keputusan Indonesia menghentikan subsidi biodiesel sementara waktu turut memengaruhi pasar. Produksi Malaysia yang turun 8,3 persen pada Desember juga menjadi faktor penting dalam pergerakan harga CPO.
Timah dan Nikel Bergerak Berlawanan
Harga timah melesat 2,06 persen menjadi USD 30.390 per ton, didorong oleh terbatasnya pasokan dari Myanmar dan Indonesia. Produksi timah di Indonesia terhambat oleh kebijakan pembatasan kuota, sementara ketidakstabilan politik di Myanmar memperburuk ketersediaan bijih timah untuk peleburan di China.
Di sisi lain, harga nikel melemah 0,50 persen menjadi USD 16.000 per ton. Meski terjadi pemangkasan kuota penambangan di Indonesia hingga 35 persen pada 2025, pasar masih tertekan oleh kelebihan pasokan akibat lonjakan produksi dari proyek peleburan di Indonesia yang didukung oleh China. [TRA]

