RELUNG.ID – Bahagia terkadang disalah artikan khususnya bagi umat muslim. Pasalnya, kebahagian sejati tidak terletak pada kekayaan, jabatan ataupun popularitas dunia.
Kebahagian sejati dalam perspektif Islam yaitu pencapaian ridha Allah SWT.
Hal ini terungkap dalam Kultum Ramadan Pengurus Majelis Al Iman Palembang, Ustad Sulaiman M Urif, di Relung Media, Kamis kemarin (21/3).
Ustad Sulaiman menegaskan, bahwa hakikat bahagia dalam Islam mencari dan menggapai keridhaan Allah.
“Jika Allah sudah rida dengan kita, maka kita pasti akan bahagia di dunia dan akhirat,” tegas beliau.
Hal ini menegaskan bahwa seluruh aktivitas dan perbuatan seorang Muslim hendaknya selalu berlandaskan pada ketaatan dan pengharapan akan ridha Sang Pencipta.
Terdapat tiga karakter utama yang mencirikan manusia yang berbahagia;
1. Qolbun Salim
Manusia yang bahagia memiliki hati yang selalu terpaut kepada Allah, selalu melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan hati yang salim, seseorang akan senantiasa berada di jalan kebenaran.
2. Wabadanun Shobirun
Kesabaran menjadi landasan utama. Beliau mengingatkan bahwa segala bentuk kejatuhan dalam kehidupan, baik itu dalam keluarga maupun pekerjaan, dapat diatasi dengan sifat sabar. Menurut Ustad Sulaiman, sabar adalah bentuk keteguhan hati dalam menghadapi segala ujian hidup.
3. Waqanaatun Bima Fil Yadi
Seseorang harus memiliki keikhlasan dan menerima ketetapan Allah, baik dalam keadaan sehat maupun dalam musibah. Keimanan yang kokoh membantu seseorang untuk melihat kebaikan di balik setiap ujian yang dihadapi.
“Mari seluruh umat untuk menerapkan ketiga karakter tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dengan menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai prioritas, umat diharapkan mampu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
“Mudah-mudahan kita termasuk manusia yang selalu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan dikumpulkan di surga-Nya kelak,” tutupnya. (LWM)

