RELUNG.ID — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengejutkan dunia dengan keputusannya menunda penerapan tarif impor terhadap 75 negara selama 90 hari ke depan.
Keputusan ini diumumkan dalam konferensi pers pada Rabu malam (9/4), di mana Trump menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah banyak pihak merespons berlebihan terhadap kebijakan sebelumnya.
“Ya, saya lihat orang-orang mulai ribut dan ketakutan, bukan seperti mental para juara,” ujar Trump, merespons pertanyaan wartawan terkait reaksi terhadap kebijakan tarif yang direncanakan sebelumnya.
Meski demikian, Trump tetap mempertahankan keputusan awalnya untuk mengenakan tarif impor yang lebih tinggi kepada banyak negara, mengingat defisit perdagangan AS terhadap negara-negara tersebut.
“China mungkin pelanggar terbesar dalam sejarah, tapi masalah ini tidak hanya tentang China,” tegas Trump, menambahkan bahwa AS tidak bisa terus mempertahankan defisit perdagangan yang begitu besar dengan banyak negara.
Namun, keputusan Trump untuk menunda perang tarif selama 90 hari ini tidak berlaku untuk China. Dalam akun media sosialnya, Truth Social, Trump malah menaikkan tarif impor terhadap China menjadi 125 persen, dengan alasan bahwa China menolak untuk bernegosiasi dan justru menyerang balik AS.
“Karena kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan China terhadap pasar dunia, saya menaikkan tarif impor AS terhadap China menjadi 125 persen, dan berlaku segera,” tegas Trump.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menjelaskan bahwa penundaan tarif ini bukan disebabkan oleh aksi jual besar di pasar keuangan, melainkan karena banyak negara lain yang ingin membuka jalur negosiasi. Lebih dari 75 negara telah menghubungi pemerintah AS untuk membahas solusi atas isu-isu perdagangan dan tarif.
Sebagai bagian dari kebijakan ini, Trump menyatakan bahwa selama 90 hari ke depan, tarif terhadap negara-negara selain China akan diturunkan menjadi 10 persen. Langkah ini diambil untuk memberikan kesempatan bagi negara-negara tersebut untuk merundingkan solusi terkait masalah perdagangan dengan AS tanpa membalas tindakan tarif tersebut.
Dengan kebijakan baru ini, Trump berharap dapat mengatasi ketimpangan perdagangan global dan mendorong negara-negara untuk bernegosiasi dengan AS demi tercapainya kesepakatan yang menguntungkan bagi ekonomi Amerika.[THQ]

