RELUNG.ID – Sumatra Selatan (Sumsel) kini memasuki masa pancaroba, yaitu transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Periode ini berlangsung sepanjang Mei 2025, dengan musim kemarau diperkirakan mulai masuk pada Juni.
Koordinator BMKG Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa pancaroba ditandai dengan turunnya kelembapan udara. Penurunan ini memengaruhi pembentukan awan, sehingga wilayah Sumsel lebih sering terpapar radiasi matahari langsung.
“Kondisi pancaroba memicu penurunan curah hujan dan perubahan pola cuaca yang cepat. Pemanasan intensif pada pagi hari dapat membentuk sistem konvektif kuat pada siang hingga sore, yang berpotensi menyebabkan angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es,” ungkap Wandayantolis, Senin (5/5/2025).
Selain itu, suhu udara harian di masa transisi ini cenderung meningkat. Wandayantolis menambahkan bahwa puncak suhu maksimum akan terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada Mei-Juni dan September-Oktober, ketika matahari berada tepat di atas wilayah Sumsel.
“Jeda hujan akan memanjang hingga 3–6 hari tanpa hujan (HTH). Saat itu, suhu udara akan terasa lebih menyengat, sebagai hasil akumulasi panas di permukaan tanah,” jelasnya.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan suhu, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, seperti risiko kebakaran hutan dan lahan akibat kekeringan.
“Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan, menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari, serta memantau informasi terkini dari BMKG terkait cuaca,” tambah Wandayantolis.[THQ]

