RELUNG.ID – Desa Dangku yang terletak di Kecamatan Empat Petulai Dangku, Kabupaten Muara Enim, menyimpan satu kekayaan kuliner yang tak banyak diketahui orang di luar kawasan yaitu Roti Maskot.
Sekilas, camilan bulat kecil ini tampak sederhana teksturnya keras dan rasanya tawar natural namun di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita panjang tentang kecukupan, kreativitas, dan tradisi yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Pagi hari di sebuah warung kayu tua di pinggir jalan utama Desa Dangku, aroma hangat tungku api menyambut setiap pengunjung yang datang.
Di atas rak kayu, puluhan Roti Maskot berbaris rapi, menanti untuk “dibangunkan“ oleh secangkir teh atau kuah santan manis.
Lisnawati, salah satu pengusaha Roti Maskot, dengan cekatan menata kembali roti-roti tersebut setelah dikeluarkan dari tungku.
“Proses pemanggangan masih tradisional, pakai tungku tanah liat yang kami buat sendiri,” ujarnya sambil menepuk-nepuk pinggiran roti agar debu tepung terbuang.
Menurut Lisnawati, Roti Maskot sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan kuliner Muara Enim dan selalu hadir di pasar-pasar tradisional.
“Dulu, gula sulit dan mahal, jadi kami buat roti ini tanpa gula. Rasa tawarnya justru membuat roti ini istimewa, karena bisa dipadukan dengan apa saja,” ungkapnya pada Kamis (8/5).
Tanpa tambahan pemanis, Roti Maskot hadir seperti kanvas kosong yang siap “berpadu” dengan kuah santan, gula merah, atau bahkan siraman kolang-kaling untuk menambah dimensi rasa.
Ciri khas Roti Maskot adalah teksturnya yang keras hasil adonan yang dipanggang hingga kering sempurna. Bagi sebagian orang, tekstur keras ini terasa menantang, namun justru itulah kunci kenikmatannya.
Cara paling nikmat menyantap Roti Maskot adalah dengan merendamnya terlebih dahulu. Baik dalam segelas teh hangat, kuah santan kental, maupun siraman gula merah cair, perendaman singkat akan membuat roti lebih lembut dan aromanya tercium sempurna.
Pada era dulu, Roti Maskot menjadi hidangan istimewa kala bulan Ramadan tiba. Ketika gula masih langka, masyarakat Muara Enim bergantung pada roti ini untuk berbuka. Tradisi inilah yang masih lestari hingga kini.
“Permintaan Roti Maskot biasanya naik menjelang sore Ramadan. Banyak yang memadukannya dengan kolang-kaling, kurma, cincau, atau dawet semua sesuai selera,” cerita Lisnawati.
Ia menambahkan bahwa kebersamaan keluarga saat menyantap Roti Maskot menjadi momen yang dirindukan, apalagi setelah seharian berpuasa.
Seiring waktu, popularitas Roti Maskot tak hanya bertahan di Muara Enim. Kini, pesanan mulai datang dari kota-kota tetangga Palembang, Prabumulih, bahkan hingga ke wilayah Lampung.
“Lumayan, setiap hari kami bisa mengirim puluhan paket roti ke luar desa. Ini membantu ekonomi keluarga di sini,” jelas Lisnawati.
Kehadiran Roti Maskot telah membuka peluang usaha baru, menggairahkan sektor pariwisata kuliner, dan menambah kebanggaan masyarakat Desa Dangku.
Di balik kemasan sederhana Roti Maskot terdapat semangat menjaga warisan nenek moyang. Proses pembuatan yang masih manual, dari mengulen adonan hingga menyalakan api tungku, menjadi ritual turun-temurun yang harus dipertahankan.
Lebih dari sekadar camilan, Roti Maskot menjadi saksi bisu perjalanan sebuah komunitas yang tetap setia pada akar budayanya memanggang harapan, meresmikan kebersamaan, dan merayakan warisan rasa dari generasi ke generasi. (NVS)

