RELUNG.ID- Film animasi nasional Merah Putih: One For All menjadi sorotan publik usai penayangannya di bioskop terbilang singkat dan minim penonton. Padahal, film yang digarap dengan anggaran Rp6,7 miliar ini digadang-gadang mengusung semangat nasionalisme untuk menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Sejak dirilis perdana pada Kamis (14/8/2025), film produksi Perfiki Kreasindo itu hanya mendapatkan izin tayang di 16 layar bioskop, baik di jaringan XXI maupun Sams Studio. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibanding film-film animasi asing yang bisa rilis serentak di ratusan layar.
Data hingga Senin (18/8/2025) mencatat, film berdurasi 70 menit ini baru ditonton 2.276 orang. Angka tersebut sangat timpang dengan film Demon Slayer: Infinity Castle yang berhasil menembus 1 juta penonton dalam periode yang sama.
Fenomena sepinya penonton terlihat di sejumlah bioskop. Di XXI Mega Bekasi, misalnya, pada penayangan siang hari hanya tiga orang yang hadir di dalam studio.
Hilmi (20), salah satu penonton, mengaku menonton karena penasaran setelah ramai kritik di media sosial.
“Ceritanya lumayan, tapi animasi masih kasar. Kalau dipersiapkan lebih matang mungkin bisa lebih bagus,” ujarnya.
Sementara, di aplikasi TIX ID pada Selasa (19/8/2025) menunjukkan jadwal tayang film ini terus dipangkas. Di Kemang Village XXI masih tersedia empat jadwal, Kelapa Gading XXI dan Alam Sutera XXI masing-masing dua jadwal sementara Puri XXI, Mega Bekasi XXI, dan Depok XXI hanya kebagian satu slot.
Di Metmall Cileungsi XXI, film ini bahkan sudah tidak lagi diputar. Padahal saat hari pertama, beberapa bioskop sempat menayangkan hingga lima kali dalam sehari.
Selain sepi penonton, Merah Putih: One For All juga mendapat rating jeblok di situs IMDb. Hingga kini, film yang disutradarai Endiarto dan Bintang Takari itu hanya meraih skor 1 dari 10 bintang, menjadikannya salah satu film animasi lokal dengan penilaian terendah.
Film ini dituding diproduksi secara terburu-buru dengan kualitas animasi yang kaku. Bahkan, muncul dugaan penggunaan aset visual stok dari situs animasi digital, sehingga menuai kritik tajam warganet.
Menanggapi berbagai kritik, sutradara Endiarto menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk tujuan komersil, melainkan sebagai tontonan bertema kemerdekaan bagi pelajar SD dan SMP.
“Film ini memang dipersiapkan untuk memeriahkan HUT ke-80 RI, bukan mengejar keuntungan,” katanya.[YKP]

