RELLUNG.ID – Industri drama mikro atau micro drama tengah menjadi fenomena baru dalam dunia hiburan digital. Format video pendek berdurasi 1–3 menit dengan cerita padat dan emosional ini kini menjelma menjadi tambang uang baru di Asia, terutama di China yang mendominasi pasar global.
Berdasarkan laporan The Micro-Drama Economy 2025 yang dirilis Media Partners Asia (MPA), pendapatan industri drama mikro di China tahun ini mencapai USD 9,4 miliar atau sekitar Rp156 triliun. Angka itu melonjak tajam dari USD 5,1 miliar pada 2023 dan USD 6,9 miliar di 2024.
Tak hanya itu, MPA memperkirakan pendapatan industri ini akan terus menanjak hingga mencapai USD 16,2 miliar (Rp265 triliun) pada tahun 2030. Pertumbuhannya pun stabil, dengan tingkat kenaikan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 11,5 persen dalam lima tahun ke depan.
Tren ini didorong oleh maraknya platform penayangan khusus drama mikro seperti ReelShort, DramaBox, GoodShort, dan MoboReels yang kini menguasai pasar daring China. Platform-platform tersebut berlomba menayangkan ribuan episode baru setiap bulan, disertai strategi pemasaran agresif di media sosial.
Format micro drama terbukti ampuh menarik generasi muda yang lebih menyukai konten cepat, emosional, dan adiktif dibanding serial berdurasi panjang. Tak sedikit pula kreator independen yang kini meraup keuntungan besar dari model pembagian pendapatan iklan dan langganan premium.
Gelombang popularitas drama mikro kini juga mulai merambah Asia Tenggara, dengan total pendapatan regional tahun 2025 mencapai USD 189 juta (Rp3,13 triliun).
Indonesia mencatat kinerja paling menonjol dengan proyeksi pendapatan USD 66 juta (Rp1,09 triliun), disusul Thailand dengan USD 49 juta dan Filipina USD 44 juta. Negara-negara lain di kawasan seperti Malaysia dan Vietnam turut menyumbang USD 29 juta.
Menariknya, Indonesia diprediksi akan menjadi pemain utama Asia Tenggara dalam lima tahun ke depan. Pada 2030, pendapatan industri drama mikro nasional diperkirakan tembus USD 311 juta (Rp5,15 triliun), tumbuh dengan CAGR sebesar 36,3 persen.
Meski dikenal sebagai raksasa hiburan Asia, Jepang dan Korea justru masih tertinggal di sektor drama mikro. Tahun ini, pendapatan Jepang baru mencapai USD 267 juta, sementara Korea hanya USD 109 juta.
Namun, keduanya diperkirakan akan mengejar ketertinggalan. Pada 2030, Jepang diproyeksi mencapai pendapatan USD 1,2 miliar, dan Korea USD 886 juta, dengan tingkat pertumbuhan tahunan yang sangat agresif di atas 35 persen.
Lonjakan pesat ini menunjukkan bahwa drama mikro telah menjadi wajah baru industri hiburan digital global. Dengan biaya produksi rendah, format fleksibel, dan daya tarik tinggi di kalangan penonton muda, drama mikro kini menjadi arena persaingan baru antara kreator, platform, dan investor media di seluruh dunia.
Bagi Indonesia, tren ini menjadi peluang emas. Dengan besarnya populasi pengguna internet dan budaya konsumsi konten pendek yang tinggi, ekosistem drama mikro nasional berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di Asia dalam lima tahun ke depan.[THQ]

