RELUNG.ID – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) mengambil langkah serius untuk mengatasi gangguan pasokan listrik yang kerap terjadi di kawasan tambak udang PT Wachyuni Mandira, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Pasalnya, gangguan listrik dinilai sangat berdampak pada operasional tambak udang yang membutuhkan pasokan listrik stabil untuk mendukung sistem aerasi, pengelolaan kualitas air, dan proses produksi lainnya. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menurunkan produktivitas sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi.
Hal ini diketahui dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, Edward Candra, di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Provinsi Sumsel, Selasa (6/1/2026).
Sekda Sumsel, Edward Candra mengatakan, bahwa Pemprov Sumsel berkomitmen mencari solusi terbaik melalui koordinasi lintas sektor, khususnya dengan PLN sebagai penyedia layanan kelistrikan.
Dia meminta semua pihak menyampaikan kondisi di lapangan secara terbuka agar permasalahan dapat diidentifikasi secara menyeluruh.
“Permasalahan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kita perlu pemetaan yang jelas agar solusi yang diambil tepat sasaran dan berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan kawasan tambak udang tersebut memiliki peran strategis, tidak hanya bagi sektor perikanan, tetapi juga bagi perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat, karena menyerap ribuan tenaga kerja.
Sementara itu, perwakilan Perkumpulan Pertambakan Udang PT Wachyuni Mandira menyampaikan bahwa keterbatasan daya listrik menjadi penyebab utama terjadinya pemadaman.
Untuk itu, mereka mengusulkan penambahan trafo guna meningkatkan kapasitas listrik, serta pembangunan pos pelayanan PLN yang lebih dekat dengan kawasan tambak agar penanganan gangguan dapat dilakukan lebih cepat.
“Kami berharap pelayanan listrik bisa ditingkatkan. Gangguan listrik sangat memengaruhi produksi dan berisiko menimbulkan kerugian besar,” ungkap perwakilan petambak.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumsel, Aries Irwan Wahyu menjelaskan, bahwa kawasan tambak udang PT Wachyuni Mandira merupakan sentra budidaya strategis yang telah beroperasi sejak 1996.
Ia menyebutkan bahwa pada tahun 2025 terjadi penurunan produktivitas tambak, salah satunya akibat keterbatasan infrastruktur pendukung seperti listrik.
“Kawasan ini menyerap hampir 10 ribu tenaga kerja. Oleh karena itu, persoalan kelistrikan harus menjadi perhatian bersama,” jelasnya.
Aries menambahkan, jaringan listrik PLN sebenarnya telah masuk ke kawasan tersebut sejak 2019, namun kapasitasnya dinilai belum memadai.
Akibatnya, pengelolaan jaringan listrik selama ini banyak dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dan pengelola tambak.
Ia juga menegaskan bahwa PT Wachyuni Mandira merupakan satu-satunya kawasan tambak udang yang memiliki legalitas resmi di wilayah tersebut, sehingga diharapkan persoalan kelistrikan dapat segera memperoleh solusi yang jelas. (DSK)

