RELUNG.ID — Sepekan setelah pergantian tahun 2026, pasar tradisional di Palembang menyajikan ironi harga pangan. Saat harga cabai dan bawang justru melunak, komoditas sumber protein seperti ayam dan ikan melesat naik, menekan daya beli warga dan mengubah pola belanja rumah tangga.
Pantauan di Pasar KM 5 Palembang menunjukkan harga cabai merah keriting yang sebelumnya sempat membuat warga “menjerit” kini turun drastis ke kisaran Rp 40.000 per kilogram. Bawang merah pun ikut melandai. Kondisi ini memberi sedikit napas lega bagi pedagang dan pembeli.
Namun kelonggaran itu tak berlangsung lama. Harga ayam potong dan ikan justru melambung, menciptakan ketidakseimbangan baru di meja makan masyarakat.
Pedagang ayam mengaku harga ayam ras bertahan tinggi di kisaran Rp 38.000 per kilogram, membuat transaksi melambat. Lonjakan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi salah satu faktor yang menjaga harga tetap tinggi.
“Stok ada, tapi pembeli berkurang. Harga tinggi bikin orang berpikir dua kali,” ujar seorang pedagang ayam di Pasar KM 5.
Situasi serupa terjadi di lapak ikan. Hampir semua jenis ikan mengalami kenaikan harga, mulai dari mujair, nila, patin, hingga tongkol. Akibatnya, ikan yang selama ini menjadi sumber protein terjangkau bagi keluarga kelas pekerja kini mulai ditinggalkan.
Kenaikan harga protein membuat sebagian warga terpaksa mengubah menu harian. Konsumsi ikan dan ayam dikurangi, diganti dengan lauk yang lebih murah meski nilai gizinya tak selalu seimbang.
“Kalau ikan terus mahal, ya mau tidak mau dikurangi. Padahal ikan penting buat anak-anak,” keluh seorang pembeli.[THQ]

