RELUNG.ID — Pemerintah kembali membuka keran besar investasi sumber daya manusia melalui program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun ini. Namun, arah kebijakannya kini lebih tajam: bukan sekadar memperbanyak penerima, melainkan memastikan lulusan beasiswa benar-benar sejalan dengan kebutuhan industri dan agenda pembangunan nasional.
Sebanyak 5.750 kuota beasiswa disiapkan, mencakup jenjang sarjana hingga doktor spesialis. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa LPDP tidak lagi hanya berorientasi pada akses pendidikan, tetapi juga pada dampak jangka panjang bagi ekonomi dan daya saing bangsa.
“Negara ingin hadir sejak awal, memastikan anak bangsa yang ingin maju mendapat dukungan. LPDP telah melahirkan banyak talenta unggul, dan tahun ini kami targetkan 5.750 penerima baru,” ujar Brian di Istana Negara, Kamis (15/1).
Dari total kuota, sebanyak 4.000 beasiswa dialokasikan untuk jenjang S2 dan S3, sementara 1.000 kursi disediakan bagi mahasiswa S1 melalui program Beasiswa Garuda, serta 750 kuota khusus untuk doktor spesialis. Namun yang membedakan tahun ini adalah fokus bidang studi.
Brian menjelaskan, beasiswa pascasarjana akan diarahkan pada sektor-sektor yang mendukung target pertumbuhan industri nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Kita membutuhkan tenaga ahli yang tepat, bukan sekadar lulusan. Karena itu, program S2 dan S3 akan disesuaikan dengan arah pembangunan nasional,” katanya.
Arahan tersebut diperkuat oleh kebijakan Presiden Prabowo yang mendorong alokasi beasiswa LPDP untuk bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) hingga lebih dari 80 persen.
Tak hanya soal beasiswa, pemerintah juga memperkuat ekosistem riset perguruan tinggi. Dana riset universitas yang sebelumnya berada di kisaran Rp 8 triliun kini mendapat tambahan signifikan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan Presiden telah memutuskan penambahan anggaran riset sebesar Rp 4 triliun, dengan harapan mampu memperkuat kolaborasi riset antara kampus dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Ini langkah strategis agar riset di perguruan tinggi benar-benar menjadi penggerak inovasi nasional,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menyebutkan realisasi pembiayaan investasi LPDP telah mencapai Rp 26,7 triliun, dengan total dana abadi pendidikan kini menembus Rp 180,8 triliun.
Sejak diluncurkan, LPDP telah menjangkau lebih dari 680 ribu mahasiswa dengan total pendanaan hampir Rp 50 triliun. Selain itu, ribuan proyek riset juga telah didanai untuk memperkuat basis ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.
“Manfaat LPDP bukan hanya dirasakan individu penerima, tetapi juga melalui riset-riset yang berdampak luas bagi masyarakat,” kata Thomas.[THQ]

