RELUNG.ID – Lonjakan harga minyak dunia yang kini menyentuh USD 80 per barel belum menggoyahkan kebijakan harga BBM subsidi di dalam negeri. Pemerintah memastikan masyarakat tetap bisa menjalani Ramadan tanpa dibayangi kenaikan harga Solar maupun Pertalite.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, hingga saat ini belum ada pembahasan terkait penyesuaian harga BBM subsidi, meski harga minyak mentah global sudah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD 70 per barel.
“Sampai dengan kami rapat tadi, belum ada pembahasan kenaikan BBM subsidi. Jadi aman-aman saja, hari raya yang baik, puasa yang baik, Insyaallah belum ada kenaikan,” ujar Bahlil di Jakarta, Selasa (3/3).
BBM subsidi yang dimaksud terdiri dari Solar (Biosolar) dan Pertalite (RON 90). Pemerintah menilai stabilitas harga dua komoditas tersebut penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang dan selama bulan suci Ramadan yang identik dengan peningkatan mobilitas dan kebutuhan pokok.
Di sisi lain, pemerintah tetap memberlakukan mekanisme pasar untuk BBM non-subsidi. Produk seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95, Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) akan mengikuti dinamika harga minyak global.
Menurut Bahlil, skema tersebut sudah diatur dalam kebijakan resmi pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022. Dengan aturan itu, harga BBM non-subsidi dapat berfluktuasi sesuai tren harga minyak dan nilai tukar.
“Kalau untuk non-subsidi, artinya harga pasar, dia akan fluktuatif berdasarkan dinamika harga pasar yang ada, seperti yang sudah terjadi sebelumnya,” tambahnya.[THQ]

