Kecelakaan truk batubara kembali terjadi di Muara Enim, Sumsel. Lagi-lagi, truk batubara menabrak tiang listrik milik PT PLN. Akibatnya, PLN terpaksa menyetop sementara aliran listrik selama 10 jam.
Tak hanya berdampak aliran listrik, peristiwa ini juga menyebabkan kemacetan panjang di lokasi kejadian atau tepatnya di Talang Kelapa Dusun VI, Desa Karang Raja, Muara Enim, Sumsel.
Kepala PLN Ranting Muara Enim, Meidha Nur Arafah mengatakan, ketika pihaknya mengetahui lampu padam dan mendapat informasi terkait adanya truk batubara yang terguling menimpa tiang listrik PLN, petugas PLN langsung meninjau ke lokasi untuk memastikan seperti apa kejadian tersebut.
Sesuai dengan informasi warga, kata Meidha, pihaknya langsung ke lapangan untuk mengetahui seberapa parah kerusakan, di lokasi didapati satu tiang listrik patah dan beberapa material PLN yang rusak.
“Saat ini kami sedang menunggu tiang dari kabupaten Lahat, karena memang dalam seminggu ini sudah dua kali kejadian tiang listri PLN patah karena tertabrak truk angkutan batu bara,” katanya, Sabtu (12/11).
Penyebab kejadian, kali ini masih sama dengan beberapa waktu kemarin, truk batu bara terguling yang menyebabkan tiang PLN patah.
Kejadian malam ini, katanya, jauh lebih parah dari sebelumnya, karena tiang listrik tertimpa badan truk secara langsung, melihat kondisinya pun sangat sulit untuk melakukan pemeriksaan karena kondisinya berada di tikungan jalan utama, “sehingga kejadian malam ini lebih parah dari sebelumnya,” tegas meidha.
Meidha mengungkapkan, bahwa tiang listrik yang ditabrak tersebut merupakan suplai utama aliran listrik menuju kota Muara Enim, jadi sekali saja salah satu tiang patah dan mengganggu arus listrik tentunya aliran listrik di kota Muara Enim padam, “Malam ini kita sudah berusaha melakukan manuver, melakukan suplai listrik dari Gunung Megang sehingga yang merasakan dampak padam ini tidak secara keseluruhan, kami berusaha semaksimal mungkin untuk memperkecil area pemadaman,” jelasnya.
Sementara itu, M Romi (24) warga kelurahan Air Lintang mengaku kesulitan setiap kali terjadi pemadaman listrik, apa lagi malam ini terjadi lebih lama dari sebelumnya, terhitung pemadaman sudah 3 kali, pertama kabel tersambar petir yang waktu itu hampir 12 jam pemadaman, kemudian tiang ditabrak angkutan batubara di Karang Raja, pemadaman 5 jam, yang terakhir kembali tertabrak angkutan batu bara hampir 10 jam pemadaman.
“Saya merasakan lebih kurang 10 jam, baru pagi ini menyala sekitar pukul 07.00 WIB tadi pagi, tepatnya saya tidak tahu jam berapa,” ujar Romi.
Pemerintah harus tegas menyikapi persoalan angkutan batu bara, pasalnya banyak sekali kendaraan berlalu lalang di jalur umum, “tentu dengan mobilitasnya yang cukup tinggi akan ada dampaknya bagi masyarakat, baik polusi dan hal yang tidak diinginkan lainnya,” kata Romi.
Harus ada evaluasi, seumpama pemeriksaan SIM, uji kelayakan, bila perlu ada sertifikat khusus bagi pengemudi, sehingga tidak seenaknya menjalankan kendaraan “ada batasan-batasan dan aturannya, saya kerap melihat mereka supir batu bara ugal-ugalan saat tidak ada muatan atau kosong, ini bahaya, pemerintah harus tegas, jangan sampai masyrakat habis kesabaran,” pungkasnya.

