Puncak gerhana bulan total tidak terlihat di Sumsel. Hal ini diketahui berdasarkan keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Selasa (8/11).
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis mengatakan, fenomena gerhana bulan terjadi beberapa fase. Yakni; awal fase penumbra (P1), awal fase sebagian (U1), Puncak Gerhana Bulan, Akhhir fase sebagian (U4) dan Akhir Fase Penumbra (P4).
“Untuk di Sumsel itu terlihat mulai akhir fase total (U3), Akhir fase sebagian (U4) dan fase Penumbra (P4),” katanya.
Akhir fase total (U3) bakal berlangsung pada 18.42.03 WIB. Lalu, Akhir fase sebagian (U4) pukul 19.49.22 WIB dan fase Penumbra (P4) pukul 20.57.43 WIB.
Dia menjelaskan, fenomena gerhana bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya matahari oleh bumi sehingga tidak semuanya sampai ke bulan. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi, dan bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.
“Gerhana bulan total (GBT) terjadi saat posisi bulan, matahari dan bumi menjadi sejajar. Hal ini membuat bulan masuk ke umbra bumi. Akibatnya, saat puncak gerhana terjadi, bulan akan terlihat berwarna merah,” ujarnya.
Berdasarkan catatan dari BMKG, GBT ini terjadi dua kali di tahun 2022. Pertama pada 16 Mei lalu, namun tidak dapat diamati dari Indonesia. Kemudian, GBT pada 8 November yang dapat diamati dari Indonesia.
Fenomena gerhana bulan ini juga aman dilihat dengan menggunakan mata telanjang tanpa alat bantu. “Fenomena GBT ini merupakan hal yang sering terjadi sehingga masyarakat tidak perlu panik,” pungkasnya.

