RELUNG.ID – Penyebaran penyakit campak di Sumatera Selatan kembali menjadi sorotan. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat lonjakan kasus yang cukup signifikan, dengan total 1.243 kasus suspek dan 184 di antaranya telah terkonfirmasi positif.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengungkapkan bahwa tren ini menjadi sinyal kewaspadaan bagi seluruh masyarakat, mengingat campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular.
“Kasus campak saat ini menjadi perhatian serius. Penyakit ini tidak hanya cepat menyebar, tetapi juga berpotensi menimbulkan komplikasi berat hingga kematian, terutama pada anak-anak,” ujar Ira, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, tingginya angka kasus dalam tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan bahwa penularan masih aktif terjadi di tengah masyarakat. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci penting untuk menekan penyebaran.
Ia menjelaskan, gejala awal campak kerap diawali dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, dan mata merah. Dalam beberapa hari, kondisi tersebut biasanya diikuti munculnya ruam merah yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.
“Bila menemukan gejala tersebut, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar dapat ditangani lebih cepat,” jelasnya.
Sebagai langkah pengendalian, Dinkes Sumsel terus menggencarkan program vaksinasi di berbagai daerah. Upaya ini dinilai efektif untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sekaligus melindungi kelompok rentan, khususnya anak-anak.
Tak hanya itu, masyarakat juga diingatkan untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan isolasi mandiri apabila terindikasi terinfeksi, guna memutus rantai penularan.
“Pencegahan tidak cukup hanya dari pemerintah. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan, mulai dari vaksinasi hingga disiplin menjaga kesehatan diri dan lingkungan,” tegas Ira.[THQ]

