RELUNG.ID — Di balik upaya pemerintah memperluas layanan kesehatan, Kota Palembang justru mencatat temuan kasus HIV/AIDS yang mengkhawatirkan. Selama Januari hingga Juni 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat 211 kasus baru, terdiri dari 154 kasus HIV dan 57 kasus AIDS. Lonjakan kasus dengan status AIDS menunjukkan satu persoalan besar: banyak warga terlambat memeriksakan diri karena takut akan stigma.
Ketua Tim P2P Dinkes Palembang, Muhammad Idrus, menyebut stigma masyarakat masih menjadi tembok terbesar dalam penanggulangan HIV/AIDS.
“Banyak yang takut diperiksa, atau memilih berobat jauh dari lingkungannya karena khawatir diketahui,” jelasnya, Senin (8/12/2025).
Hingga kini, total 2.094 pasien HIV/AIDS tercatat masih aktif menjalani pengobatan sejak 2004. Meski layanan sudah merata di 42 puskesmas, stigma membuat sebagian pasien baru datang ketika kondisinya sudah berat.
“Untuk memperluas akses, sejumlah puskesmas kini menyediakan layanan PrEP (Pre-exposure prophylaxis) untuk pencegahan penularan, termasuk Puskesmas Nagaswidah, Kampus, dan Sungai Baung—yang merupakan faskes dengan jumlah pasien HIV terbanyak selain RSMH,”kata dia.
Namun, akses layanan bukan hanya soal fasilitas. Menurut Idrus, ketakutan masyarakat membuat banyak kasus baru ditemukan saat pasien sudah jatuh dalam kondisi AIDS, sering kali setelah mengalami penyakit penyerta seperti TB.
Dinkes Palembang kini mengedepankan strategi empat pilar (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif) melalui edukasi massif ke sekolah, pesantren, hingga lingkungan kerja. Mereka juga menggencarkan notifikasi pasangan dan memperkuat kolaborasi dengan LSM seperti Yayasan Tamahani dan Jaringan Indonesia Positif.
Tingkat keberhasilan terapi ARV di Palembang cukup tinggi. Dari 1.400 pasien yang diperiksa viral load, sekitar 1.300 sudah tersupresi, sehingga risiko penularan sangat rendah. Meski begitu, kelompok usia produktif 24–49 tahun masih menjadi kelompok paling rentan terinfeksi.
Data akumulatif sejak 2004 mencatat 722 pasien meninggal dunia. Dinkes pun kembali mengingatkan masyarakat untuk memberi dukungan kepada ODHA agar tetap produktif dan tidak terpinggirkan, serta menghilangkan stigma yang selama ini menghambat deteksi dini.[THQ]

