RELUNG.ID – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Forum DAS) mengambil peran lebih aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Keberadaan 42 daerah aliran sungai (DAS) di Sumsel dinilai menjadi aset penting yang harus dilindungi dari berbagai ancaman kerusakan.
Herman Deru menegaskan, upaya menjaga kelestarian DAS tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Keterlibatan Forum DAS dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat pengawasan sekaligus memastikan berbagai persoalan lingkungan dapat terdeteksi sejak dini.
Hal itu disampaikannya saat membuka Lokakarya Multipihak dan Musyawarah Daerah (Musda) Forum DAS Provinsi Sumsel di Beston Hotel Palembang, Selasa (27/10/2026).
“Yang paling bertanggung jawab menjaga DAS bukan hanya pemerintah, tetapi juga Forum DAS bersama masyarakat. Pemerintah memiliki keterbatasan mata dan telinga, sehingga Forum DAS harus menjadi pemasok informasi yang akurat sekaligus pengingat ketika terjadi kerusakan lingkungan,” kata Herman Deru.
Ia mengingatkan, sejumlah persoalan masih mengancam kelestarian DAS di Sumsel. Mulai dari penggundulan hutan, abrasi, sedimentasi, penambangan ilegal, hingga pencemaran lingkungan akibat penggunaan merkuri.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut membutuhkan pengawasan dan penanganan secara bersama-sama. Forum DAS diharapkan mampu menjadi penghubung antara pemerintah, kalangan akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam merumuskan solusi yang berkelanjutan.
Keberadaan 42 DAS di Sumsel, lanjutnya, bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat, ketahanan ekosistem, serta keberlangsungan perekonomian daerah.
Karena itu, Forum DAS diharapkan tidak berhenti sebagai organisasi formal, tetapi mampu menghadirkan aksi nyata di lapangan, termasuk menyampaikan informasi mengenai kerusakan lingkungan dan mendorong tindak lanjut dari pihak terkait.
Lokakarya multipihak dan Musda Forum DAS Sumsel yang berlangsung pada 27–28 Oktober 2026 tersebut sekaligus menjadi momentum evaluasi kepengurusan periode 2021–2026, penyusunan rekomendasi pengelolaan DAS Musi, serta penetapan kepengurusan baru periode 2026–2031.
Ketua Umum Forum DAS Sumsel periode 2021–2026, Syafrul Yunardy, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi atas berbagai upaya yang telah dilakukan selama lima tahun terakhir sekaligus merumuskan strategi pengelolaan DAS ke depan.
Menurut Syafrul, pengelolaan DAS membutuhkan sinergi antara kajian ilmiah, kebijakan pemerintah, dan praktik konservasi di tingkat tapak. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar upaya pelestarian lingkungan tidak berjalan secara parsial.
“Sesuai motto kami, ‘Mengalir memberi kontribusi dan inspirasi demi DAS Musi Lestari’, perjalanan lima tahun ini telah membuktikan bahwa Forum DAS hadir nyata di tingkat tapak hingga panggung kebijakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai inisiatif telah dikembangkan selama masa kepengurusan, mulai dari digitalisasi pemantauan, aksi konservasi, pendidikan lingkungan, kaderisasi pemuda, hingga advokasi kebijakan.
Syafrul juga menyebut Forum DAS Sumsel berhasil meraih penghargaan Terbaik I tingkat nasional kategori Forum DAS dalam Penghargaan Wana Lestari 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan di Jakarta pada 13 Agustus 2026.
Capaian tersebut, katanya, menjadi modal untuk memperkuat program pelestarian DAS sekaligus memperluas keterlibatan para pemangku kepentingan.
“Pengelolaan DAS di Sumatera Selatan membutuhkan perpaduan riset ilmiah, kebijakan pemerintah yang kuat, serta komitmen investasi hijau dari dunia usaha. Suksesi kepengurusan pada Musda 2026 ini memastikan keberlanjutan aksi nyata yang telah terbangun,” katanya. (DSK)

