RELUNG.ID – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru meminta seluruh pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan terjadi selama musim kemarau tahun ini. Langkah antisipasi dinilai penting agar produktivitas pertanian tetap terjaga dan posisi Sumsel sebagai salah satu lumbung pangan nasional tidak terganggu.
Deru menegaskan, Sumsel saat ini menempati posisi ketiga sebagai penyumbang produksi pangan terbesar di Indonesia. Karena itu, seluruh jajaran pemerintah daerah hingga instansi terkait diminta bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian.
“Dampak kekeringan terhadap produktivitas pertanian harus diantisipasi agar tidak mengganggu capaian produksi yang sudah berjalan dengan baik,” ujar Herman Deru, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, mempertahankan prestasi sebagai daerah penghasil pangan tidak hanya soal menjaga peringkat nasional, tetapi juga memastikan hasil produksi tetap optimal meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem.
“Prestasi sebagai salah satu produsen pangan tertinggi harus kita pertahankan, baik dari sisi peringkat maupun jumlah produktivitasnya,” katanya.
Selain mengancam sektor pertanian, Deru mengingatkan musim kemarau juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jika tidak diantisipasi sejak dini, karhutla dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih luas, mulai dari gangguan kesehatan masyarakat hingga aktivitas transportasi.
“Asap karhutla tidak hanya menurunkan kualitas udara, tetapi juga bisa menyebar ke daerah lain dan mengganggu operasional penerbangan,” ujarnya.
Peringatan tersebut sejalan dengan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut fenomena El Niño kini telah aktif bersamaan dengan masuknya seluruh wilayah Sumsel ke musim kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan hasil pengamatan hingga Dasarian I Juli 2026 menunjukkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 1,5 derajat Celsius. Bahkan pada awal Juli, kenaikan suhu tercatat hampir mencapai dua derajat Celsius di atas kondisi normal.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator menguatnya El Niño yang berpotensi menekan pembentukan awan hujan di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan.
“Menguatnya fenomena El Niño ini berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di Sumsel,” kata Wandayantolis.
Ia menambahkan, berkurangnya curah hujan akan meningkatkan peluang terjadinya kekeringan di sejumlah wilayah, sehingga pemerintah daerah perlu memperkuat langkah mitigasi, terutama di sektor pertanian dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.[THQ]

