RELUNG.ID – Musim kemarau belum sepenuhnya membuat Sumatera Selatan (Sumsel) bebas dari hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah di provinsi ini masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang hingga akhir Juli 2026.
Meski demikian, secara umum curah hujan di Sumsel masih berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut dinilai perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan jumlah titik panas (hotspot) yang menjadi indikator awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan pola cuaca dalam sepekan ke depan dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer yang masih mendukung terbentuknya awan hujan.
“Dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial, serta keberadaan Gelombang Ekuatorial Rossby di wilayah Sumatera masih memberikan peluang terbentuknya hujan ringan hingga sedang di sejumlah daerah,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Berdasarkan prakiraan BMKG, pada periode 26-28 Juli 2026, hujan ringan berpotensi terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara, Musi Rawas, Muara Enim, Empat Lawang, Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, Ogan Komering Ilir (OKI), serta Kota Pagar Alam.
Sementara pada 29-31 Juli 2026, potensi hujan ringan hingga sedang diperkirakan meluas ke Kabupaten Musi Banyuasin, Muara Enim, Lahat, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Banyuasin, OKI, OKU, Ogan Ilir, OKU Timur, OKU Selatan, serta Kota Prabumulih.
Di balik peluang hujan tersebut, BMKG menegaskan sebagian besar wilayah Sumatera Selatan tetap didominasi curah hujan kategori rendah. Kondisi ini membuat risiko munculnya titik panas masih cukup tinggi, terutama di daerah yang memiliki lahan gambut dan kawasan rawan kebakaran.
“Kondisi curah hujan yang rendah berpotensi memicu peningkatan jumlah hotspot. Karena itu, masyarakat perlu tetap waspada meskipun masih ada peluang hujan di beberapa wilayah,” kata Siswanto.[THQ]

