RELUNG.ID – Musim kemarau yang terjadi saat ini berakibat meningkatnya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumsel.
Meski demikian, dampak karhutla terhadap kualitas udara di Sumsel masih tergolong aman. Hal ini diketahui dari hasil pemantauan partikulat halus (PM2.5).
Dikutip dari instagram resmi BMKG Sumsel, hasil pemantauan selama periode 28 Juli 2026 pukul 07.01 WIB hingga 29 Juli 2026 pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 32,55 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut masih berada di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan pemerintah, yakni 55 µg/m³ untuk rata-rata pengukuran selama 24 jam.
Hal sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
“Pada saat pengukuran dilakukan, kondisi cuaca di Palembang dilaporkan udara kabur,” tulis BMKG Sumsel.
Untuk diketahui, PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat halus, yakni lebih kecil dari 2,5 mikrometer.
Karena ukurannya yang kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga paru-paru dan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan apabila terpapar dalam konsentrasi tinggi atau dalam jangka waktu lama.
Paparan PM2.5 dalam jangka pendek diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan paru-paru, bronkitis, hingga memicu serangan asma.
Kelompok yang paling rentan terhadap dampak tersebut antara lain bayi, anak-anak, serta lanjut usia (lansia). (LWM)

