Otoritas Filipina bakal menyegel 175 perusahaan judi lepas pantai (POGO) yang kerap melakukan tindak kejahatan. Tak hanya itu, 40 ribu pekerja China juga di deportasi.
Tindakan tegas tersebut diambil guna mengurangi angka kejahatan ilegal yang dilakukan sesama etnis China di tempat perjudian.
“Penumpasan POGO itu dipicu oleh adanya laporan pembunuhan, penculikan dan kejahatan lain yang dilakukan oleh warga negara China terhadap sesama warga negara China,” kata Juru Bicara Kementrian Kehakiman, Jose Dominic Clavano dikutip dari Reuters, Selasa (27/9).
Dia menambahkan, penutupan dan deportasi tersebut akan dimulai bulan depan. Dimana yang menjadi target yaitu perusahaan judi yang izinnya sudah kadaluarsa atau dicabut karena tidak membayar pajak pada pemerintah.
Berdasarkan data kementrian keuangan setempat, pemerintah Filipina mampu menghasilkan Rp2,6 triliun pada tahun 2020 lalu. Namun, di tahun 2021 yakni hanya sebesar Rp1 triliun dari biaya POGO. Menurutnya, jumlah tersebut diperkirakan jauh lebih besar dikeluarkan untuk pajak, pengeluaran pekerja dan sewa kantor.
Kedutaan China di Manila dalam sebuah pernyataannya menyebutkan Beijing mendukung deportasi dan tindakan keras terhadap kejahatan terkait POGO dan dengan tegas mengklaim pemerintahnya melawan keras perjudian.
Sektor POGO telah muncul di Filipina sejak tahun 2016. Menurut data Leechiu, POGO bisa menghasilkan Rp 48,8 triliun untuk perekonomian negara setiap tahunnya dan mempekerjakan lebih dari 201 ribu orang Cina dan 111 ribu orang Filipina.

