RELUNG.ID — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) menelan korban jiwa. Hingga Sabtu siang, sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan dua korban meninggal berada di Kabupaten Sikka, sementara tiga korban lainnya berada di Kabupaten Manggarai.
“Berdasarkan informasi yang saya terima saat ini, jumlah korban meninggal sudah lima orang,” kata Melki, Sabtu (15/8/2026).
Para korban diduga meninggal setelah tertimpa material bangunan yang roboh akibat guncangan. Namun, pemerintah daerah masih melakukan verifikasi untuk memastikan penyebab kematian masing-masing korban.
“Tetapi, kami akan pastikan lagi penyebabnya karena apa,” ujarnya.
Melki mengatakan pemerintah akan turun langsung ke wilayah terdampak untuk melakukan pengecekan kondisi masyarakat dan kerusakan infrastruktur.
“Siang nanti kami akan berangkat ke Flores dan sore nanti kami sampaikan update-nya lagi, mulai dari korban jiwa serta kerusakan,” katanya.
Gempa kali ini menjadi perhatian serius karena sejumlah wilayah yang terdampak merupakan kawasan yang memiliki catatan panjang bencana gempa dan tsunami.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengingatkan kembali tragedi gempa Flores pada 12 Desember 1992.
Saat itu, gempa berkekuatan magnitudo 7,8 yang berpusat di Laut Flores memicu tsunami besar. Gelombang tsunami dilaporkan mencapai ketinggian hingga 25 meter di sejumlah titik.
“Pada 12 Desember 1992 gempa bumi berkekuatan 7,8 Magnitudo yang berpusat di Laut Flores pernah terjadi dan memicu gelombang tsunami dahsyat setinggi hingga 25 meter di beberapa titik,” kata Suharyanto.
Kota Maumere dan wilayah pesisir utara Flores termasuk kawasan yang mengalami dampak paling parah dalam bencana tersebut. Pulau Babi yang berada di sekitar Flores juga terdampak berat.
Menurut Suharyanto, bencana 1992 menjadi salah satu catatan gempa paling mematikan di Indonesia.
Sebanyak 2.500 orang meninggal dunia, sementara 2.103 lainnya mengalami luka-luka. Ribuan rumah dan fasilitas publik mengalami kerusakan. Infrastruktur transportasi turut terdampak, termasuk jalan dan jembatan yang terputus.
Fasilitas pendidikan, tempat ibadah hingga layanan kesehatan juga mengalami kerusakan akibat gempa dan tsunami.
Dengan adanya korban jiwa dalam gempa terbaru, pemerintah daerah kini memprioritaskan pencarian dan pendataan korban serta pemetaan kerusakan.
Gubernur NTT mengatakan informasi mengenai jumlah korban maupun kerusakan masih terus diperbarui karena tim di lapangan masih melakukan pendataan.
Pemerintah juga akan memastikan kebutuhan masyarakat terdampak, termasuk penanganan korban serta kondisi bangunan dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan.[THQ]

