RELUNG.ID – Pasar kendaraan listrik (EV) di Eropa terus menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Berdasarkan analisis Dataforce terhadap data registrasi kendaraan baru di Uni Eropa, Swiss, Norwegia, Islandia, dan Inggris, sekitar 25 persen dari seluruh mobil yang terjual pada Juli 2026 merupakan kendaraan listrik.
Pertumbuhan tersebut juga terlihat dari kinerja sepanjang tahun. Selama periode Januari hingga Juli 2026, penjualan kendaraan listrik meningkat 37 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Salah satu faktor yang mendorong masyarakat Eropa beralih ke kendaraan listrik adalah tingginya biaya bahan bakar. Namun, analis menilai peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh semakin banyaknya pilihan model EV yang tersedia di pasar Eropa.
Pertumbuhan tidak hanya terjadi pada kendaraan listrik. Secara keseluruhan, pasar mobil Eropa tumbuh 4,1 persen pada Juli, sedangkan akumulasi penjualan selama Januari hingga Juli meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. Penjualan BEV bahkan mencatat kinerja lebih baik dibandingkan kendaraan hibrida plug-in (PHEV) dan full hybrid.
Penjualan PHEV sendiri meningkat 15 persen, sementara kendaraan full hybrid tumbuh 9 persen secara tahunan.
Sepanjang Juli, sekitar 277.000 unit kendaraan listrik terdaftar di kawasan Eropa yang menjadi cakupan analisis tersebut.
Prancis dan Jerman menjadi dua negara yang berada di garis depan pertumbuhan kendaraan listrik di Eropa. Di Prancis, kendaraan listrik bahkan menyumbang sekitar 35 persen dari total penjualan mobil baru.
Dari sisi model, persaingan EV di Eropa juga semakin menarik. Pada Juli, Skoda Elroq menjadi kendaraan listrik dengan penjualan tertinggi, disusul Volkswagen ID.4 dan Renault 5 E-Tech.
Menariknya, tidak ada model Tesla yang masuk tiga besar penjualan EV pada bulan tersebut.
Meski demikian, Tesla Model Y masih menjadi kendaraan listrik terlaris di Eropa jika melihat akumulasi tujuh bulan pertama 2026.
Penjualannya mencapai 115.759 unit, atau meningkat sekitar 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, produsen kendaraan asal China semakin kuat di segmen plug-in hybrid. Salah satu faktor yang mendukung posisi mereka adalah kendaraan PHEV tidak menghadapi tarif impor tambahan seperti yang berlaku pada kategori kendaraan tertentu, sehingga produsen China dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif.
Sekitar 125.530 unit PHEV terjual di Eropa sepanjang Juli 2026. Angka tersebut meningkat 15 persen secara tahunan.
Produsen China bahkan menguasai sekitar 34 persen pangsa pasar PHEV di kawasan tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar otomotif Eropa semakin cepat beralih menuju elektrifikasi. Selain pertumbuhan penjualan BEV, meningkatnya persaingan dari produsen China di segmen PHEV turut mengubah peta persaingan industri otomotif di kawasan tersebut. (LWM)

