RELUNG.ID – Pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Kota Palembang resmi memasuki tahap awal operasional.
Pemerintah Kota Palembang mulai mengirimkan sampah dari berbagai wilayah menuju fasilitas PSEL sebagai langkah awal pemanfaatan sampah menjadi sumber energi listrik.
Dimulainya pengiriman sampah perdana tersebut ditinjau langsung Wali Kota Palembang Ratu Dewa.
Ia menyebut pengoperasian awal PSEL menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah mengatasi persoalan sampah perkotaan dengan sistem yang lebih modern.
“Hari ini adalah hari perdana masuknya sampah dari beberapa tempat ke PSEL yang menghasilkan energi listrik. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sampah yang masuk mencapai 960 ton per hari,” ujar Ratu Dewa saat meninjau fasilitas PSEL.
Menurut Ratu Dewa, keberadaan PSEL tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah, tetapi juga bagian dari strategi pemerintah dalam menghasilkan energi dari timbulan sampah.
Terlebih, PSEL Palembang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditetapkan sebagai salah satu proyek percontohan pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.
“Ini merupakan proyek strategis nasional dan Palembang menjadi salah satu percontohan. Jadi kita berharap pelaksanaannya berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Dalam sistem pengolahannya, sampah yang telah tiba di fasilitas PSEL tidak langsung dibakar. Sampah terlebih dahulu menjalani proses fermentasi selama sekitar lima hingga tujuh hari sebelum masuk ke tahapan pengolahan berikutnya hingga menghasilkan energi listrik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Akhmad Mustain mengatakan, pengiriman sampah menuju PSEL mencakup seluruh wilayah Kota Palembang.
Saat ini, pengangkutan dilakukan dari lebih dari 400 Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang tersebar di berbagai kawasan.
“Pengangkutan mencakup seluruh wilayah. Kita terus mengatur ritase armada agar distribusi sampah menuju PSEL dapat berjalan optimal,” jelasnya.
Ia menyebutkan, produksi sampah di Kota Palembang mencapai sekitar 1.260 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 960 hingga 1.000 ton per hari dialokasikan untuk masuk ke bunker PSEL.
Untuk menunjang proses pengangkutan, Pemkot Palembang mengoperasikan 141 armada dari total 160 armada yang tersedia.
Pemkot juga berencana menambah armada pengangkut melalui Anggaran Perubahan guna memperkuat sistem distribusi sampah ke fasilitas PSEL.
Dengan beroperasinya PSEL, sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan dan membutuhkan lahan pembuangan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.
Meski demikian, Pemkot Palembang menegaskan bahwa keberadaan PSEL bukan berarti persoalan sampah dapat diselesaikan sepenuhnya hanya melalui teknologi pengolahan.
Masyarakat tetap diminta berperan dengan mengurangi produksi sampah serta memilah sampah sejak dari rumah.
Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat digunakan kembali atau dimanfaatkan melalui sistem daur ulang, sedangkan sampah yang harus diolah dapat diarahkan ke fasilitas pengelolaan yang tersedia.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular, dengan menempatkan sampah bukan hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah.
Sementara itu, perjalanan PSEL Palembang akan memasuki agenda penting pada 10 September 2026. Kegiatan tersebut direncanakan dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Adapun peresmian fasilitas PSEL ditargetkan dilakukan pada Desember 2026 dan direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia. (DSK)

