Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/2026

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/2026

Heboh! Nama Prajurit Ini Bikin Komandan Gemetar

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Awal September Diguyur Hujan, BMKG: Belum Jadi Tanda Kemarau Berakhir
Regional

Awal September Diguyur Hujan, BMKG: Belum Jadi Tanda Kemarau Berakhir

alwiBy alwi02/09/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
ilustrasi hujan deras. (Istimewa/net)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan pada awal September 2026 belum bisa dijadikan tanda bahwa musim kemarau telah berakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan yang terjadi masih bersifat lokal dan belum menunjukkan perubahan pola musim secara menyeluruh.

Baca juga :   Pemkot Palembang Tambah Unit Penyedot Air dan Perkuat Drainase untuk Atasi Banjir

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan peluang pertumbuhan awan hujan memang masih terbuka pada periode 1–6 September 2026. Namun, potensi tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Sumsel.

“Secara umum peluang pertumbuhan awan hujan di Sumatera Selatan kemungkinan tidak merata di seluruh wilayah,” ungkap Siswanto, Rabu (2/9/2026).

Kondisi ini membuat satu daerah bisa mengalami hujan, sementara wilayah lainnya tetap kering. Hujan yang turun pun belum cukup kuat untuk menandai adanya perubahan musim.

Baca juga :   OKI dan Muba Jadi Sumber Kabut Asap, BPBD Sumsel Ungkap Arah Sebaran Karhutla

Menurut Siswanto, Sumsel masih berada dalam periode musim kemarau. Terlebih, prediksi curah hujan selama September secara umum masih berada pada kategori rendah dan cenderung di bawah normal.

“Karena itu, hujan yang muncul di sejumlah daerah diperkirakan lebih bersifat lokal atau sporadis. Kondisi cuaca antardaerah pun dapat berbeda, tergantung perkembangan atmosfer di masing-masing wilayah,” jelasnya.

Kemunculan hujan di tengah musim kemarau merupakan kondisi yang masih mungkin terjadi. Karena itu, masyarakat tidak disarankan menjadikan hujan dalam satu atau beberapa hari sebagai patokan bahwa musim telah berganti.

Baca juga :   Wabup Muba Kyai Rohman Sambut Hangat Audiensi KEMALA

Siswanto menjelaskan, pembentukan awan hujan sangat dipengaruhi kondisi atmosfer yang dinamis. Perubahannya dapat berlangsung cepat sehingga potensi hujan tidak bisa hanya ditentukan berdasarkan kondisi cuaca dalam satu hari.

“Perkembangan awan konvektif sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, hujan yang turun di suatu wilayah belum tentu terjadi di daerah lain yang masih berada dalam provinsi yang sama.

Baca juga :   Suami Kedapatan Chat dengan Wanita Lain, Istri di Palembang Malah Dianiaya

Untuk tren cuaca sepanjang September, BMKG memperkirakan kondisinya tidak akan jauh berbeda dibandingkan Agustus. Potensi hujan memang tetap ada, tetapi belum menunjukkan perubahan pola musim secara keseluruhan.

“Artinya, meski sejumlah wilayah mulai mendapatkan hujan, ancaman kondisi kering masih perlu diwaspadai. Terlebih, Sumsel sebelumnya menghadapi periode puncak musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla),”kata dia.

Masyarakat juga diminta tidak lengah terhadap potensi kebakaran hanya karena hujan mulai turun di beberapa lokasi.

Baca juga :   Kemarau Kian Panjang, OMC di Sumsel Berpacu dengan Ketersediaan Awan

“BMKG menilai perubahan menuju kondisi yang lebih basah membutuhkan pola hujan yang lebih konsisten dan meluas, bukan sekadar hujan lokal yang terjadi sesekali,” tutupnya. (THQ)

BMKG Hujan Kabut Asap Karhutla Kemarau
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePemkot Palembang Mendadak Ganti Sekda
Next Article Tiga Satwa Burung Dilindungi Dilepasliarkan ke Taman Nasional Baluran
alwi

Related Posts

Regional

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/20263 Views
Regional

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/20266 Views
Regional

Heboh! Nama Prajurit Ini Bikin Komandan Gemetar

11/10/20268 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,956 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,825 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,798 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?