RELUNG.ID– Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kota Palembang akibat memburuknya kualitas udara mulai menimbulkan persoalan baru bagi sebagian orangtua siswa.
Selain memastikan anak tetap mengikuti pembelajaran dari rumah, orangtua yang bekerja harus membagi waktu untuk mendampingi aktivitas belajar anak. Kondisi ini membuat sejumlah wali murid berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai kapan pembelajaran tatap muka (PTM) kembali diberlakukan.
Yuliani, salah satu orangtua siswa sekolah dasar di kawasan Jakabaring, Palembang, mengatakan PJJ memang memberikan rasa aman bagi anak di tengah kondisi kabut asap.
Namun, penerapan PJJ cukup menyulitkan keluarga yang kedua orangtuanya harus bekerja.
“Sebenarnya ada dua sisi PJJ ini, dari sisi kesehatan baik karena anak bisa terjaga dari kabut asap. Tapi dari sisi pembelajaran jadi tidak efektif. Apalagi kami yang bekerja ini, repotnya jadi double. Kira-kira sampai kapan ya?” ujar Yuliani, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, orangtua tidak hanya harus memastikan anak mengikuti kelas daring, tetapi juga mendampingi ketika terdapat tugas atau materi pelajaran yang membutuhkan bantuan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang tetap harus menjalankan aktivitas pekerjaan di tengah penerapan PJJ.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Palembang belum dapat memastikan kapan sekolah kembali menggelar pembelajaran tatap muka. Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan keputusan penghentian PJJ akan sangat bergantung pada perkembangan kualitas udara.
“Jadi untuk tatap muka, setop PJJ tergantung angka ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara). Saat ini belum baik-baik saja,” jelasnya.
Dewa menegaskan PJJ tidak diberlakukan tanpa batas waktu. Pemkot Palembang akan terus memantau kondisi udara dan mengevaluasi kebijakan tersebut berdasarkan perkembangan di lapangan.
“Jadi bukan berarti PJJ ini akan terus dilakukan tanpa evaluasi. Kita akan melihat perkembangan setiap hari,” kata dia.
Menurut Dewa, pemerintah harus berhati-hati sebelum memutuskan membuka kembali sekolah. Kondisi udara yang belum sepenuhnya membaik dinilai masih berisiko terhadap kesehatan siswa dan tenaga pendidik.
Selain kualitas udara yang tercermin melalui ISPU, perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga menjadi salah satu pertimbangan pemerintah.
“Prinsip kita sederhana, keselamatan anak-anak nomor satu. Kita akan terus pantau ISPU dan ISPA. Kalau keduanya sudah menunjukkan kondisi yang stabil dan aman, baru kita evaluasi untuk kembali ke pembelajaran tatap muka,” katanya.[YKP]

