RELUNG.ID- Video Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam perjalanan menggunakan LRT viral di media sosial.
Video tersebut ramai diperbincangkan setelah muncul narasi yang menyebut Teddy mengusir Direktur Utama LRT dan sejumlah pejabat lainnya dari dalam gerbong.
Akun Instagram @catatanseskab kemudian memberikan klarifikasi terkait video tersebut. Akun itu menyebut narasi yang beredar tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.
“Ramai framing yang menuduh Seskab Teddy ‘mengusir’ Dirut LRT dan sejumlah pejabat lainnya saat peresmian LRT. Padahal kenyataannya gak gitu!,” tulis akun @catatanseskab, dikutip Jumat (18/9/2026).
Dalam keterangan video tersebut, Teddy disebut sedang mengatur posisi di dalam gerbong untuk memberikan ruang bagi pengguna kursi roda agar dapat berada lebih dekat dengan Presiden Prabowo.
“Padahal, Seskab Teddy sedang mengatur area untuk memberikan jalan bagi pengguna kursi roda supaya posisinya lebih dekat dan dapat ikut berbincang langsung dengan Presiden,” demikian keterangan dalam unggahan tersebut.
Dalam rekaman yang beredar, Teddy memang terlihat meminta sejumlah pejabat LRT berpindah posisi ketika Presiden Prabowo berada di dalam gerbong.
Peristiwa tersebut kemudian memunculkan beragam komentar publik. Narasi mengenai Teddy mengusir pejabat LRT pun berkembang di media sosial.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah turut memberikan pandangan mengenai polemik tersebut.
Dedi menilai tindakan Teddy dalam video tersebut tidak tepat disebut sebagai pengusiran. Menurutnya, Teddy sedang melakukan pengaturan situasional untuk memberikan ruang bagi Presiden Prabowo dan penumpang penyandang disabilitas.
“Tapi harus dipahami bahwa publik tidak akan mengetahui hal-hal semacam itu. Publik hanya akan melihat apa yang tampak di permukaan secara langsung. Dan kita harus maklum kalau kemudian itu mendapatkan penafsiran yang berbeda dan menimbulkan kesalahpahaman yang tinggi,” kata Dedi.
Menurut Dedi, konteks kejadian membuat anggapan Teddy mengusir pejabat LRT sulit diterima. Sebab, agenda Presiden Prabowo saat itu berkaitan langsung dengan LRT.
“Padahal kalau kita berkaca pada realitas yang mungkin muncul, sebetulnya tidak akan mungkin Seskab Teddy mengusir pejabat LRT sementara agenda Presiden bersama LRT. Itu saya kira sesuatu yang mustahil,” ujarnya.
Dedi menjelaskan, pejabat LRT yang berada di dalam gerbong hanya dipindahkan posisinya untuk memberikan ruang bagi Presiden dan penumpang penyandang disabilitas.
“Tapi hanya memindahkan posisi agar ada ruang bagi Pak Prabowo dan juga salah satu penumpang yang disabilitas itu, Prof. Itu kan tindakan-tindakan momentum, bukan tindakan formal, bukan disposisi,” katanya.
Menurut Dedi, pengaturan tersebut lebih merupakan inisiatif personal Teddy karena dirinya berada dan mendampingi Presiden dalam situasi tersebut.
“Artinya, karena Teddy melekat dan berada dalam situasi yang sama dengan Presiden, kemudian secara inisiatif dan personal mengatur siapa yang boleh ada di ruangan bersama Presiden, siapa yang harus didahulukan, dan lain-lain, itu saya kira adalah inisiatif personal Teddy sebagai orang dekat Presiden, bukan inisiatif Teddy sebagai Seskab,” tuturnya.
Dedi menegaskan, tindakan Teddy dalam video tersebut tidak berkaitan dengan kewenangan formal Sekretaris Kabinet. Ia menilai tindakan itu merupakan respons situasional untuk menata kondisi di sekitar Presiden selama perjalanan menggunakan LRT.[YKP]

