Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026

Tak Ada Penerbangan ke Palembang, Percuma Status Bandara Internasional

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Saturday, 10 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Liputan Khusus»Medan Karhutla Sumsel Makin Sulit Dijangkau, Motor Trail Pemadam Mau Digas ke Mana?
Liputan Khusus

Medan Karhutla Sumsel Makin Sulit Dijangkau, Motor Trail Pemadam Mau Digas ke Mana?

alwiBy alwi05/10/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Medan karhutla Sumsel makin sulit dijangkau. Motor trail pemadam, mau digas kemana: Ilustrasi/Generative AI/Relung.id
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID-Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase yang semakin sulit.

Api tidak hanya muncul di titik-titik yang mudah dijangkau, tetapi merambat ke kawasan gambut, semak dan lahan dengan akses terbatas. Sumber air menipis, asap menutup pandangan, sementara jarak menuju titik api kerap memaksa petugas meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki.

Manggala Agni, BPBD Sumsel dan BPBD kabupaten/kota, bersama TNI, Polri serta masyarakat yang menjadi relawan, masih berjibaku melakukan pemadaman di sejumlah titik. Namun dalam kondisi seperti sekarang, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memadamkan api. Persoalan utama adalah bagaimana menjangkau apinya?

Di sejumlah lokasi, kendaraan pemadam tidak bisa mendekat. Petugas harus membuka akses, melangsir peralatan, mencari sumber air atau bahkan berjalan kaki menembus medan berat untuk mencapai titik kebakaran.

Hingga awal Oktober 2026, karhutla masih terjadi di sedikitnya enam wilayah Sumsel, yakni OKI, Musi Banyuasin, Muara Enim, Ogan Ilir, Banyuasin dan Palembang, dengan luasan yang masih diperkirakan mencapai ratusan hektare.

Pemerintah Provinsi Sumsel sendiri mengakui karakter lahan gambut, wilayah yang luas dan sulit dijangkau, keterbatasan sumber air serta api bawah tanah membuat penanganan karhutla menjadi kompleks. Di Gelumbang, Muara Enim, misalnya, Manggala Agni harus menembus medan berat dan asap pekat selama berhari-hari untuk menangani kebakaran di kawasan hutan.

50 Diminta, 100 Motor Disiapkan

Kondisi tersebut memunculkan kembali pertanyaan mengenai efektivitas sarana pemadam yang disiapkan pemerintah, khususnya 100 unit motor trail pemadam yang diminta Pemerintah Provinsi Sumsel kepada Presiden Prabowo Subianto.

Saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Sumsel pada 24 Agustus 2026, Gubernur Sumsel Herman Deru secara khusus meminta tambahan 50 unit motor trail yang dapat dimodifikasi dengan tangki air.

Kendaraan tersebut diusulkan untuk membantu menjangkau titik-titik api yang sulit dimasuki kendaraan pemadam berukuran besar. Permintaan itu bahkan dijawab lebih besar. Presiden Prabowo memerintahkan pengadaan 100 unit motor trail untuk Sumsel. Motor tersebut direncanakan dimodifikasi dan dilengkapi perangkat pemadam untuk mendukung penanganan karhutla.

Secara konsep, motor trail memang memiliki keunggulan untuk medan yang sulit. Ground clearance tinggi, bodi ramping dan kemampuan melibas jalur sempit membuat kendaraan roda dua ini berpotensi menjangkau lokasi yang tidak bisa dimasuki kendaraan pemadam berukuran besar.

Namun karhutla bukan sekadar soal motor bisa masuk atau tidak. Setelah gas diputar, motor itu bisa sampai mana? Dari mana airnya? Berapa banyak peralatan yang bisa dibawa? Dan ketika jalurnya benar-benar habis, siapa yang melanjutkan perjalanan menuju api? Pertanyaan ini muncul dibenak masyarakat.

Persoalannya kini bukan lagi apakah motor trail dibutuhkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sejauh mana motor trail tersebut benar-benar mampu menjawab karakter medan karhutla Sumsel yang semakin sulit dijangkau?

Sebab ketika petugas masih harus menembus gambut, rawa, semak dan kawasan dengan akses terbatas, efektivitas kendaraan pemadam tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bergeraknya, tetapi juga oleh seberapa jauh kendaraan itu mampu membawa personel, air dan peralatan hingga mendekati titik api.

Di sinilah penggunaan motor trail pemadam perlu diuji: apakah benar menjadi solusi lapangan, dan dalam kondisi seperti apa kendaraan tersebut paling efektif digunakan

Titik Api Harus Dikejar dengan Berjalan Kaki

Mengenai kondisi medan yang semakin sulit dijangkau, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan kondisi yang dihadapi petugas di lapangan hrus bekerja ekstra menerobos jalur titik api yang terbakar.

Medan yang sulit dan tak ada akses jalan yang terbatas membuat kendaraan patroli tak bisa langsung menuju ke titik api. Tim pun harus dibagi, ada yang mencari sumber air sebagian lagi menuju ke titik api dengan berjalan kaki membawa pompa serta selang air sepanjang puluhan meter agar sampai ke kepala api.

Kepala api lebih dulu menjadi target operasi tim darat untuk melakukan pemadaman agar tak meluas.

“Kondisi sekarang air semakin sulit air, sehingga kami harus menggunakan alat berat untuk memperdalam kanal agar mendapatkan air untuk pemadaman,”kata Ferdian.

Selain berjalan kaki, petugas pun tak jarang harus bergelantungan menggunakan selang air menuju titik api karena berbatasan dengan kanal. Ferdian mencontohkan medan sulit pemadaman di kawasan SM Padang Sugihan, lokasi titik api yang berseberangan dengan kanal, membuat petugas harus berpikir cepat melakukan pemadaman agar api tak menyebar.

Selain itu, sebagian petugas juga harus berenang meneyeberangi kanal air agar bisa menuju titik api. “Kesulitan ini tergantung medannya, bila di seberang kanal yang masih ada air terkadang kami harus berenang menuju ke seberangnya. Tapi untuk sekarang mayoritas kanal sudah mengering karena elnino dan kemarau yang panjang,”ujarnya.

Kesulitan bukan hanya di medan darat. Namun, helikopter waterbombing dan pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga tak bisa terbang karena jarak pandang yang terbatas pada Jumat (2/10/2026). Pekatnya kabut asap membuat para pilot memilih untuk tidak terbang karena keselamatan.

“Sehingga kami hanya menggunakan visual darat untuk mencari titik api dan melakukan pemadaman. Kami menggunakan drone karena cukup efektif untuk melihat kepala api,”ungkap Ferdian.

Disisi lain, Polda Sumatera Selatan bersama Staf Logistik (SLOG) Polri mengerahkan teknologi drone untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Teknologi tersebut digunakan untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi personel di darat, terutama lahan gambut yang memiliki risiko tinggi terbakar dan minim sumber air. Dalam operasi ini, petugas juga memanfaatkan formula x-fire untuk membantu proses pemadaman dari udara.

Karo Pengadaan Barang dan Jasa SLOG Polri Brigjen Pol. Hery Santoso mengatakan pemadaman dilakukan sejak Sabtu (26/09/2026) hingga Senin (28/09/2026). Penanganan difokuskan di kawasan lahan gambut Desa Sungai Bungin, Kecamatan Pangkalan Lampam, serta area sekitar ruas Jalan Tol Trans Sumatera (Kapal Betung).

“Kawasan OKI memiliki lahan gambut yang cukup luas, sangat rentan terbakar, dan kondisinya sulit dijangkau serta minim air sehingga memerlukan penanganan ekstra. Inovasi penyemprotan cairan x-fire dari udara ini jauh lebih praktis, ekonomis, serta meminimalisasi risiko bagi personel di lapangan,” ujarnya.

Menurut Hery, penggunaan drone memungkinkan petugas menjangkau titik-titik yang sulit diakses melalui jalur darat. Teknologi tersebut juga menjadi solusi untuk wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.

Sebelum digunakan dalam penanganan karhutla di OKI, teknologi penyemprotan dari udara tersebut telah melalui serangkaian uji coba di Kabupaten Ogan Ilir.

Selain mengoptimalkan teknologi dalam pemadaman, kepolisian juga mengingatkan masyarakat agar ikut mencegah munculnya titik api baru. Masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya mengatakan penggunaan teknologi menjadi bagian dari upaya memperkuat respons kepolisian dalam menghadapi ancaman karhutla di Sumatera Selatan.

“Sesuai arahan Bapak Kapolda, pencegahan karhutla bukan hanya tugas kepolisian, melainkan tanggung jawab bersama untuk melindungi ekosistem dan kesehatan masyarakat Sumsel. Pemanfaatan drone dan cairan x-fire ini adalah wujud nyata optimalisasi penanganan agar titik api tidak meluas,” kata Nandang.

Medan Karhutla yang Terus Berubah

Karhutla gambut juga memiliki karakter berbeda dengan kebakaran di lahan terbuka. Api dapat menjalar di bawah permukaan dan membutuhkan penanganan dengan air dalam jumlah serta durasi tertentu.

Ketua Pusat Studi Lingkungan STIPER Sriwigama Palembang, Dr Krisna Delita, M.Si mengatakan, karakter gambut yang menyerupai spons membuat api dapat menjalar ke bawah permukaan.

Dia mengataja api pada lahan gambut tidak hanya membakar permukaan, tetapi dapat merambat ke lapisan bawah tanah sehingga sulit dipadamkan dan menghasilkan kabut asap dalam waktu lama.

Karena itu, penanganan Karhutla di lahan gambut harus dilakukan secara terpadu. Salah satunya dengan memastikan air dapat mencapai lapisan gambut yang terbakar.

“Gambut itu sama seperti spons, itulah kebakaran gambut sangat sulit karena karakter gambut tergantung kedalamannya. Karena, Gambut itu terbakarnya bukan di permukaan, tetapi ke bawah. Inilah yang menyebabkan timbulnya kabut asap ketika musim kemarau tiba,” jelasnya.

Krisna menekankan pentingnya menjaga muka air tanah agar tetap berada pada kondisi yang dapat mempertahankan kelembapan gambut. Menurutnya, muka air tanah tidak boleh berada lebih rendah dari 40 sentimeter.

“Jadi muka air tanah tidak boleh di bawah 40 sentimeter. Kalau di bawah itu, gambut bisa terbakar,” ujarnya.

Dalam kondisi kebakaran, lanjut Krisna, pemadaman membutuhkan peralatan khusus agar air dapat disemprotkan hingga ke lapisan bawah gambut. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan Karhutla di kawasan gambut.

Ia menilai penggunaan motor trail untuk pemadaman memiliki keterbatasan karena kapasitas angkut air yang tidak besar. Untuk kebakaran dengan cakupan luas, penggunaan helikopter water bombing dinilai lebih memungkinkan untuk mempercepat pemadaman.

Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dapat dilakukan untuk membantu memancing hujan di wilayah yang terdampak Karhutla. Namun, Krisna mengingatkan OMC bukan solusi instan. Pelaksanaan operasi tersebut tidak serta-merta membuat hujan langsung turun di lokasi kebakaran.

“Menurut saya tidak efektif untuk melakukan pemadaman kebakaran di area gambut dengan motor trail karena kapasitas angkut terbatas. Justru lebih baik menggunakan heli watter bombing atau dilakukan OMC. Tapi masalahnya melakukan OMC juga tidak bisa langsung instan turun hujan,” katanya.

Menurut Krisna, upaya paling penting dalam penanganan Karhutla justru berada pada tahap pencegahan. Pemerintah perlu memetakan titik-titik yang memiliki tingkat kerawanan tinggi sebelum kebakaran terjadi.

“Langkah preventif yang harus dilakukan, solusi yang terbaik untuk menangani Karhutla ini dengan mencegah agar tidak terbakar. Kalau pemerintah tidak bisa melakukan itu, ya akan terus terjadi kabut asap ini setiap tahun,” tegasnya.

Ia mengatakan, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap kawasan kubah gambut dan jaringan kanal yang berada di lahan gambut. Kanal-kanal tersebut harus dipantau dan dipelihara agar fungsi hidrologis lahan gambut tetap terjaga.

Pengelolaan air menjadi penting untuk mempertahankan kelembapan gambut dan mencegahnya mudah terbakar. Disamping itu ketersedian air di sekat kanal dan kubah-kubah gambut dapat juga mempermudah melakukan pemadaman

“Itulah pentingnya pemerintah juga wajib melalukan koordinasi dengan BMKG dan instansi lainnya untuk memetakan titik rawan kebakaran. Disamping itu bagaimana menjaga muka air tanah di atas 40 sentimeter agar gambut tetap lembap. Karena bagaimanapun langkah pencegahaan jauh lebih efektif dibandingkan memadamkan dengan motor trail yang kapasitasnya terbatas,” jelas Krisna.

Sementara itu, kritik terhadap kebijakan ini pada akhirnya bukan terletak pada keberadaan motor trail. Pertanyaan utamanya adalah apakah jenis sarana yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan medan ketika karhutla sudah berada pada kondisi seperti sekarang.

Saat permintaan bantuan disampaikan pada 24 Agustus lalu, kondisi lapangan dan karakter titik kebakaran tentu menjadi salah satu pertimbangan. Dalam pengertian, pencegahan luasan karhutla di sumsel masih bisa dimaksimalkan jika dieksekusi dengan sarana dan anggaran yang jelas secara cepat dan tepat.

Kini, ketika kebakaran meluas ke lokasi yang semakin sulit dijangkau, kebutuhan di lapangan juga dapat berubah.

Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik, Bagindo Togar, menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan perlu diubah secara mendasar.

Menurutnya, pola penanganan yang selama ini dilakukan pemerintah masih terlalu berorientasi pada pemadaman api ketika kebakaran sudah terjadi. Sementara persoalan mendasar yang menjadi penyebab Karhutla dinilai belum ditangani secara serius.

Bagindo mendorong pemerintah melakukan radikal break atau perubahan mendasar dalam strategi penanggulangan Karhutla, terutama di tengah kondisi kabut asap yang semakin parah.

“Tidak ada cara lain, kita perlu penanganan dengan cara radical break soal Karhutla ini. Karena selama ini kepala daerahnya memang gagal paham karena tidak cakap dan cerdas dalam mengatasi persoalan ini,” kata Bagindo.

Ia menilai respons pemerintah ketika Karhutla terjadi masih berkutat pada langkah-langkah jangka pendek, seperti membagikan masker, meminta bantuan pemerintah pusat hingga mendatangkan peralatan pemadaman.

Menurutnya, langkah tersebut memang diperlukan dalam kondisi darurat. Namun, tidak cukup jika dijadikan strategi utama penanganan Karhutla. Persoalan Karhutla tidak seharusnya hanya dilihat sebagai persoalan kebakaran yang harus segera dipadamkan.
Menurutnya, pemerintah perlu melihat persoalan dari sisi tata kelola lingkungan, pengawasan wilayah rawan, pengelolaan lahan gambut hingga pencegahan kebakaran sejak dini.

“Lihat saja apa yang dilakukan mereka di saat kabut asap terjadi. Tidak ada, hanya sibuk bagi-bagi masker dan mohon bantuan ke pusat dan minta bantuan motor trail. Apakah dengan begitu kabut asap berkurang. Justru seperti itu tidak menyentuh akar masalahnya, itulah mengapa karhutla di Sumsel seperti proyek. Jika tidak ada karhutla tidak dapat anggaran, setelah dapat anggaran tambah bingung untuk menggunakannya,” ujarnya.

Bagindo juga mendorong publik untuk mengevaluasi seluruh kepala daerah yang wilayahnya terdampak kabut asap akibat karhutla. Bahkan jika perlu Gubernur, Walikota hingga Bupati harus mundur karena gagal mengatasi permasalahan karhutla.

“Kalau tidak mampu atau gagal saya rasa lebih baik mundur saja. Jadi saya tekankan lagi tidak ada cara lain dengan radikal break untuk menangani permasalahan karhutla ini,”pungkasnya. [TIM]

Banyuasin BPBD Sumsel Gambut Karhutla Karhutla Indonesia Karhutla Sumsel Manggala Agni Motor Trail Muara Enim Musi Banyuasin Ogan Ilir OKI Palembang Pemadam Karhutla Sumatera Selatan Sumsel
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleHeboh, Tongkang Batu Bara Menabrak Tiang LRT di Jembatan Ampera
Next Article Asap Karhutla Kepung Palembang, Pesawat Tertunda Mendarat, Kualitas Udara Makin Berbahaya
alwi

Related Posts

Regional

Tak Ada Penerbangan ke Palembang, Percuma Status Bandara Internasional

10/10/20267 Views
Regional

Askolani Temukan Alat Berat Ratakan 120 Hektare Lahan Bekas Karhutla di Banyuasin

10/10/20264 Views
Regional

Pembina Pramuka di Palembang Ditangkap Usai Lecehkan 8 Siswa SMP

10/10/20264 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,849 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,724 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,695 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?