RELUNG.ID – Status Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, kembali menjadi sorotan setelah kabut asap membatasi jarak pandang hingga 500 meter pada Sabtu.
Kondisi tersebut berdampak pada 15 penerbangan, terdiri atas tujuh keberangkatan dan delapan kedatangan.
Gangguan penerbangan akibat kabut asap ini membuat sejumlah penumpang kecewa. Mereka harus menunggu tanpa kepastian jadwal keberangkatan, meski tiket telah dipesan jauh-jauh hari.
Salah satu penumpang, Kian Rizky, mengaku merugi akibat tertundanya penerbangan menuju Malaysia. Ia mengaku telah memesan tiket sejak sepekan lalu dengan harapan kondisi cuaca membaik.
“Rugi banyak kita, Mas. Sudah seminggu pesan tiket berharap cuaca membaik, tapi sia-sia, akhirnya tertunda juga keberangkatan,” ungkapnya.
Kian mengatakan, hingga Sabtu, dirinya belum mendapatkan kepastian kapan penerbangan menuju Malaysia dapat dilaksanakan. Ia bersama penumpang lainnya masih menunggu informasi dari pihak bandara.
“Sekarang kami masih standby saja di bandara, masih menunggu pengumuman kapan jadwal terbang. Kalau begini percuma saja status bandara internasional, tapi seluruh penerbangan delay,” tegasnya.

Sementara itu, General Manager Bandara Internasional SMB II Palembang, Ahmad Syaugi Shahab, mengatakan berdasarkan pembaruan informasi hingga pukul 12.30 WIB, jarak pandang di bandara tercatat hanya 500 meter akibat kabut asap.
Berdasarkan data operasional bandara, tujuh penerbangan keberangkatan yang terdampak meliputi JT246 tujuan Batam, TR255 tujuan Singapura, IU302 tujuan Pangkalpinang, SI7296 tujuan Pekanbaru, QG987 tujuan Jakarta, IU964 tujuan Kualanamu, serta AK461 tujuan Kuala Lumpur.
Adapun delapan penerbangan kedatangan yang terdampak yakni TR255 dari Singapura, SI7295 dari Pekanbaru, QG9962 dari Jakarta, IU933 dari Yogyakarta, AK462 dari Kuala Lumpur, QG980 dari Jakarta, GA102 dari Jakarta, dan GA104 dari Jakarta.
Pihak pengelola bandara menyatakan terus memantau perkembangan cuaca dan jarak pandang serta berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keselamatan penerbangan.
“Kami terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang di sekitar bandara serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan,” kata Ahmad Syaugi.
Kabut asap yang mengganggu operasional penerbangan tersebut kembali memperlihatkan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap mobilitas masyarakat.
Di tengah kondisi ini, kepastian informasi dan penanganan terhadap penumpang terdampak menjadi hal penting, terutama bagi mereka yang harus menanggung kerugian akibat penundaan perjalanan. (YSF)

