RELUNG.ID — Kue Delapan Jam dan Maksuba, dua kue basah makanan khas Palembang, tak hanya menggoda lidah dengan rasa legit dan manisnya, tetapi juga menyimpan nilai historis yang merefleksikan kehidupan warga Palembang pada masa lalu.
Mardho Tilla, pemilik Palembang Harum, sebuah toko oleh-oleh khas Palembang di Jalan Merdeka, membagikan cerita tentang kedua kue tersebut melalui inovasi kemasan berupa box kue beserta sejarah di dalamnya.
“Kami menciptakan inovasi kemasan dengan cerita dan gambar desain khusus agar pembeli mengetahui sejarahnya. Kami menyediakan dua warna kemasan, merah untuk kue Delapan Jam dan kuning untuk kue Maksuba. Konsumen juga kami undang untuk mencicipi gratis kue Delapan Jam dan Maksuba,” ungkap Mardho.
Baca Juga: Viral Percakapan Panas di Grup WhatsApp Palembang, Beda Pilihan Politik Picu Perdebatan Hebat
Ia menjelaskan bahwa sejarah kue Delapan Jam terdapat di dasar box kemasan, sementara di permukaan depan terdapat desain cara pembuatannya menggunakan oven tradisional atau “gendok,” yang pengapian kayunya bersumber dari kayu bakar. Sementara di permukaan belakangnya, tertulis sejarah yang dirangkum dari sejarawan Palembang.
“Sejarahnya berasal dari filosofi keseimbangan hidup. Kue ini harus dimasak tepat 8 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Ini mengajarkan bagi kita untuk membagi waktu 24 jam sehari: 8 jam bekerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam beribadah,” jelas Mardho.
Proses memasak kue Delapan Jam, menurutnya, mengajarkan arti kesabaran, dan hasilnya yang cantik hanya tercapai jika prosesnya tepat selama 8 jam. Dulunya, kue ini hanya dapat dinikmati oleh kalangan bangsawan Kesultanan Darussalam, tetapi sekarang telah menjadi umum dan sering dijumpai dalam berbagai acara di Palembang.
Baca Juga: Resep Model Ikan Makanan Khas Palembang, Cobain Yuk di Rumah
Lebih lanjut, Mardho menceritakan bahwa kue Maksuba dahulu digunakan sebagai ukuran keterampilan seorang perempuan asli Palembang dalam memasak. Kue ini dihadirkan kepada calon mertua jelang hari raya lebaran, sebagai wujud rasa cinta dan penghormatan.
“Tapi, zaman sekarang, perempuan di Palembang tidak banyak dan pandai membuat Maksuba, ” kata dia.
Kue Maksuba, yang dibuat dengan proses di rendang (dl panggang menggunakan oven) secara berlapis, memiliki cita rasa manis dengan tekstur padat dan lembut. Kue ini, sering dianggap mirip dengan kue lapis, memiliki keunikan dengan garis-garis hitam tidak beraturan di tengahnya.
Baca Juga: Awal Mula Nama Makanan Khas Kota Palembang Pempek hingga Tercipta Macam-Macam Jenisnya
“Sama dengan kue Delapan Jam, kue Maksuba sudah ada sejak masa Kesultanan Palembang, dan menjadi makanan istimewa. Kue Maksuba sekarang sering disajikan saat lebaran dan acara besar. Kue basah khas Palembang ini juga menjadi salah satu primadona kuliner masyarakat Palembang yang tak jarang menjadi favorit wisatawan luar,” pungkas Mardho.

