RELUNG.ID – Musim kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir, membuat para petani harus memutar otak untuk mendapatkan penghasilan.
Salah satunya petani di Muara Enim tepatnya di Desa Gunung Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT) Tengah.
Mereka lebih memilih untuk bertani tomat agar tidak terlalu dipusingkan dengan air yang kian mengering akibat kemarau.
Baca Juga: Muncul dari Lingkaran Sihir, Penguasa Tertinggi Dunia Rebut Pacifista
“Sejauh ini tidak ada kendala, baik musim hujan maupun tidak hujan tetap sama. Karena penanaman atau budidaya Tomat ini tidak terlalu rumit,” kata Dini, Jumat (6/10).
Menurutnya, menanam tomat cenderung ringkas dan sederhana. Berbeda dengan tanaman lainnya.
Selain itu, harga jualnya juga cukup tinggi yaitu Rp8.000 per kilogram. Sehingga, petani sangat diuntungkan.
Baca Juga: Daesung BIGBANG Bakal Jadi Juri Living Legend
“Penjualannya juga tidak ribet, biasanya pembeli datang kesini. Mereka memilih dan panen sendiri setelah itu baru nanti ditimbang,” terangnya.
Biasanya lahan seluas setengah hektare, dapat panen sekitar 15 ton tomat. Namun, dikarenakan musim kemarau. Maka, mereka melakukan panen dua kali dalam seminggu.
Berbeda halnya saat musim hujan, mereka akan melakukan panen satu minggu sekali.
Baca Juga: Diam-diam Vegapunk Memiliki Perasaan Mendalam kepada Bonney, Apakah itu Cinta?
“Tomat ini biasanya baru bisa dipanen saat usia tanam mereka sudah tiga bulan,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini yang menjadi permasalahan yaitu akses jalan. Karena itu, dia berharap agar akses jalan dipermudah sehingga mempermudah mobilisasi para petani dan pembeli.
“Kami harap pemerintah membangunkan akses jalan yang layak,” harapnya.

