RELUNG.ID – Stasiun Klimatologi Sumatra Selatan (Sumsel) memprakirakan wilayah Bumi Sriwijaya sedang memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Meskipun curah hujan akan berkurang pada masa transisi ini, cuaca ekstrem masih mungkin terjadi.
“Wilayah Sumsel dalam periode masa transisi dari musim hujan beralih ke musim kemarau. Meskipun terdapat peluang kenaikan jumlah curah hujan pada dasarian II Juni, namun curah hujan diprediksi akan terus mengalami penurunan di sebagian besar wilayah hingga akhir Juni 2024,” ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Sumsel, Wandayantolis, Senin (10/6/2024).
Wandayantolis menjelaskan bahwa pada dasarian I Juni 2024, sebagian besar wilayah di Sumsel masih diguyur hujan. Hujan yang terjadi tercatat dalam kategori rendah dengan curah hujan berkisar 0-50 milimeter (mm), sedang 50-150 mm, dan tinggi berkisar 150-300 mm.
“Curah hujan tertinggi terjadi di Pos Hujan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat sebesar 339 mm,” jelas Wandayantolis.
Pihaknya juga memprakirakan peluang curah hujan masih akan terjadi pada dasarian II Juni 2024. Peluang tersebut diprediksi merata di sebagian besar wilayah Sumsel hingga lebih dari 60 persen dengan tingkat curah hujan menengah.
“Masyarakat diharapkan tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang akan timbul selama periode ini, seperti potensi terjadinya hujan secara tiba-tiba yang disertai petir dan angin kencang,” ujar Wandayantolis.
Selain itu, Wandayantolis menyebutkan bahwa monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut menunjukkan beberapa wilayah seperti Ogan Ilir, Empat Lawang, Ogan Komering Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir, Palembang, Musi Banyuasin, Lahat, Muara Enim, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, dan OKU Timur mengalami HTH dengan kategori sangat pendek berkisar 1-5 hari.
“HTH terpanjang terpantau di Pos Hujan Pendopo, Kabupaten PALI selama 6 hari,” tutup Wandayantolis.

