RELUNG.ID – Dampak luapan Sungai Ogan serta anak sungainya telah menyebabkan banjir di lima kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Meski luapan air sudah mulai surut, sebanyak 6.036 jiwa dilaporkan terdampak banjir yang terjadi pada 15 dan 16 Juni 2024 lalu. Kecamatan yang terdampak meliputi Baturaja Timur, Lubuk Batang, Peninjauan, Lubuk Raja, dan Kedaton Peninjauan Raya.
“Total ada 2.065 kepala keluarga (KK) terdampak dan 1.534 unit rumah terendam banjir dengan ketinggian air antara 30 hingga 100 sentimeter,” ungkap Sudirman, Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, pada Jumat (21/6/2024).
Sudirman menjelaskan bahwa banjir di OKU disebabkan oleh hujan ekstrem di Hulu Sungai Ogan. Menurut data dari BMKG, perubahan pola cuaca dengan adanya belokan angin dan konvergensi di bagian selatan Sumsel serta gelombang ekuatorial (Rossby) aktif di daerah tersebut telah meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
“Intensitas hujan yang lebat menyebabkan hujan sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang yang merata di wilayah OKU, sehingga aliran sungai di bagian hilir Sungai Ogan meluap dan merendam banyak rumah,” jelas Sudirman.
BPBD Sumsel terus mendata jumlah kerugian akibat banjir. Saat ini, mereka mencatat kerugian material mencapai Rp3,9 miliar. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian banjir ini. Sudirman juga mengimbau warga untuk waspada terhadap kemungkinan banjir susulan di wilayah OKU.
Pj Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Teddy Meilwansyah menambahkan bahwa banjir yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir disebabkan oleh penggundulan hutan secara masif di bagian hulu.
“Permasalahan deforestasi di bagian hulu disebabkan oleh berbagai faktor. Kami akan mengkaji dan mendalami masalah ini lebih lanjut,” ujar Teddy pada Rabu (19/6/2024).
Teddy menyebut bahwa banjir tahun ini termasuk yang terbesar dalam 42 tahun terakhir, dengan frekuensi banjir yang tinggi sepanjang tahun ini.
“Dalam satu tahun terjadi tiga kali banjir, pasti ada yang salah,” ungkapnya. [AYK]

