RELUNG.ID – Menjelang panen raya yang diprediksi akan terjadi pada Januari hingga Maret mendatang, Badan Urusan Logistik (Bulog) melakukan langkah strategis untuk memperkuat daya serap gabah petani.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Zulkifli Hasan, mengumumkan bahwa Bulog telah menganggarkan total Rp 43 triliun untuk menyerap hingga 3 juta ton gabah, sebuah langkah penting untuk menjaga stabilitas harga.
“Produksi beras kita saat ini berlebih, dan kami berkomitmen untuk memaksimalkan penyerapan gabah dari para petani.”kata dia.
Dalam rincian anggaran tersebut, Rp 27 triliun dialokasikan untuk penguatan keuangan Bulog, sementara Rp 16,6 triliun akan digunakan untuk bantuan pangan, menguatkan upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan bahan pangan.
Kekhawatiran terkait kelebihan stok pangan, terutama untuk jagung dan gabah, juga ditanggapi oleh Zulkifli.
Ia meyakinkan bahwa Bulog telah mempersiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menyerap semua produksi dalam negeri tanpa harus bergantung pada impor.
“Kami percaya bahwa Bulog memiliki kapasitas yang cukup untuk mengelola produksi ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, Menteri Zulkifli juga menyampaikan bahwa Perum Bulog diminta untuk menyerap 3 juta ton beras hingga April 2025. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan produksi beras pada awal 2025 akan mengalami peningkatan sekitar 50 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Dalam upaya untuk mendukung petani, pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp 6.500 per kilogram. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan insentif bagi petani dan menjaga stabilitas perekonomian di sektor pertanian.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Bulog tidak hanya dapat memperkuat daya serap gabah petani, tetapi juga berkontribusi positif terhadap ketahanan pangan nasional.[TRA]

