RELUNG.ID – Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sumsel, dan Badan Karantina Indonesia terus memperkuat hilirisasi dan industrialisasi.
Salah satunya memfasilitasi pengiriman sampel sampel kulit atau serat nanas ke Spanyol.
“Ini merupakan langkah penting untuk membuka peluang ekspor serat kulit nanas asal Prabumulih ke pasar global,” kata Kepala Karantina Sumsel, Kostan Manalu, Senin (3/3).
Dia mengatakan, serat kulit nanas asal Prabumulih ini memiliki potensi besar untuk menembus pasar global, terutama untuk industri tekstil dan kerajinan.
Pengiriman sampel ke negeri matador ini diharapkan dapat menjadi pintu gerbang untuk ekspor skala besar di masa mendatang.
“Kami berharap ekspor langsung dari Sumsel dapat berkelanjutan, membawa manfaat ekonomi bagi petani dan pengusaha lokal di Prabumulih, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasiona,” ujarnya.
Dia mengatakan, selama ini komoditas tersebut dilalulintaskan antar-area terlebih dahulu, kemudian diekspor dari Jakarta.
Hal ini dikarenakan keterbatasan pemahaman calon ekspotir mengenai prosedur ekspor. Karena itu, pihaknya melakukan bimbingan intensif.
“Kami harap kedepan eksportir bisa dan mampu mengekspor langsung dari Sumatera Selatan.”
Dilansir data Badan Pusat Statistik, Sumatera Selatan merupakan sentra produksi nanas, menghasilkan sebanyak 477,43 ribu ton pada 2023. Sumatera Selatan sendiri merupakan daerah penghasil kedua terbesar nanas setelah Provinsi Lampung sebanyak 722,85 ribu ton.
Karantina Sumatera Selatan berkomitmen untuk terus memfasilitasi perdagangan dalam negeri maupun global dan mendukung produk lokal dapat menembus pasar global. Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk selalu mematuhi prosedur karantina guna memastikan produk yang diekspor bebas dari hama penyakit dan memenuhi persyaratan negara tujuan. (LWM)

