RELUNG.ID – Dalam Kuliah Tujuh Menit (Kultum) Ramadan di Relung Media, Ustad Dr H Abdullah Asmara LC mengajak seluruh umat Islam untuk memaknai Ramadan sebagai madrasah kehidupan.
Hal ini guna mendidik keimanan dan akhlah sebagai bekal kehidupan kita sehari-hari dalam menjalani kehidupan.
“Jadi Ramadan tidak sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga tetapi juga momen untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT,” kata dosen UIN Raden Fatah Palembang ini.
Dikutip dari Surat Al Baqarah ayat 183, ‘Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,’ Hal ini mengacu bahwa Ramadan sebagai dasar keimanan dan ketaatan umat Islam.
“Ramadan adalah ladang pendidikan spiritual,” katanya.
Dalam sebuah hadis juga disebutkan ‘Barang siapa yang melaksanakan Ramadan dengan penuh keimanan dan ketaatan, maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.’
Hadis tersebut mengajarkan umat untuk selalu mengintrospeksi diri serta menjadikan Ramadan sebagai waktu perbaikan diri.
Melalui ibadah-ibadah seperti salat, tarawih, tilawah Alquran, dan tentu saja puasa, Ramadan menjadi kesempatan emas untuk memperbaharui keimanan.
Menurutnya, ada tiga poin utama pendidikan Ramadan ini yang harus diambil hikmahnya:
1. Meningkatkan Ketakwaan kepada Allah
Ramadan adalah waktu untuk memperdalam keimanan melalui ibadah yang intensif. Beliau mengingatkan umat dengan hadis Nabi yang berbunyi,
“Jaddidu imanakum, jaddidu imanakum, jaddidu imanakum.”
Pesan tersebut mengajak setiap muslim untuk terus memperbaharui iman dengan mengucapkan kalimat tauhid, “Lailahaillallah.”
2. Membiasakan Diri untuk Berbagi
Ramadan juga mengajarkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Beliau mencontohkan akhlak Rasulullah SAW dalam hal berbagi kepada kaum fakir miskin, sebagai bentuk realisasi keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mempersiapkan Diri untuk Hidup dan Mati dalam Keislaman
Menurut beliau, Ramadan mendidik umat untuk senantiasa hidup dalam ketaatan dan siap menghadap kematian sebagai seorang muslim. Hal ini ditekankan melalui pengingat dalam Alquran bahwa manusia tidak mengetahui kapan ajal menjemput, sehingga penting untuk selalu meningkatkan kualitas keimanan.
Meski Ramadan datang setiap tahun, kesempatan untuk bertemu kembali dengan keberkahannya tidak bisa dianggap enteng.
“Ramadan akan selalu datang, namun pertemuan kita bersama Ramadan belum tentu dapat dipastikan,” ujarnya,
Dia pun berharap melalui pendidikan spiritual di bulan suci ini, umat Islam dapat menjadi sarjana-sarjana Ramadan dengan predikat muttaqun, yakni orang-orang yang benar-benar bertakwa.
“Semoga ini menjadi dorongan bagi setiap muslim untuk mengisi Ramadan dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikan ibadah sebagai bekal kehidupan di dunia dan akhirat,” harapnya. (LWM)

