RELUNG.ID – Di bulan suci Ramadan ini bukan semata untuk menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga sebagai alat untuk membentuk kepribadian dan karakter yang bertaqwa.
Karena itu, manfaatkan bulan suci Ramadan yang tinggal beberapa hari agar semua kembali fitri di Idulfitri 1446 H.
Demikian disampaikan Ustad Marzuki, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang dalam Kultum Ramadan di Relung Media, Minggu sore (24/3).
Dia mengatakan, umat Islam harusnya mensyukuri segala nikmat yang telah Allah titipkan kepada setiap insan. Mengingat bahwa semua harta dan keberkahan itu hanyalah amanah dari-Nya.
Menurutnya, kemampuan untuk mensyukuri nikmat merupakan kunci utama agar Allah menambahkan keberkahan dalam hidup.
“Setiap jengkal yang kita miliki adalah karunia dari Allah, dan jika kita ingkari, maka nikmat itu akan dicabut,” katanya.
Untuk mensyukuri itu, melafazkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai bentuk penghormatan dan doa agar beliau menjadi perantara syafaat di hari kemudian. Sikap ini menurut beliau merupakan bagian dari komunikasi yang mendekatkan diri kepada Allah.
Beliau menyinggung ayat dalam surah Al-Baqarah yang menyatakan bahwa puasa merupakan sarana untuk mencapai takwa.
“Keutamaan puasa tidak hanya diukur dari fisiknya, melainkan juga dari bagaimana seseorang dapat menahan amarah, menghindari ucapan kasar, dan tidak membiarkan diri terjebak dalam sifat kikir,” terangnya.
Ustad Marzuki menguraikan beberapa ciri khas orang bertaqwa yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari,
Pertama, memohon mmpun dan istighfar, menyadari setiap kesalahan dan khilaf sebagai bagian dari kehidupan, sehingga selalu memohon ampun kepada Allah serta meminta maaf kepada sesama.
Kedua, menahan amarah, mampu mengendalikan emosi meski diprovokasi, sehingga tidak melontarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain.
Ketiga, bersikap dermawan, mampu berinfak kepada yang membutuhkan, baik di saat lapang maupun sempit, tanpa mengedepankan kepemilikan semata.
Keempat, menjaga Lisan dan perbuatan, menjaga tutur kata dan sikap agar selalu dalam koridor kebaikan dan takwa.
“Marilah jadikan Ramadan sebagai momentum untuk menata hati,” katanya.
Dengan menunaikan ibadah dengan sungguh-sungguh dan terus meningkatkan sikap bertaqwa, semoga setiap insan akan mendapatkan predikat fitri atau bersih dari dosa dan kesalahan, sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat-ayat suci. (LWM)

