RELUNG.ID-Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, secara terbuka menyinggung adanya intervensi dalam kekalahannya pada Muktamar NU ke-34 yang digelar di Lampung pada akhir 2021 lalu.
Ia secara spesifik menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai sosok yang tidak menginginkannya kembali menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.
“Pak Jokowi tidak senang saya ingin terpilih lagi di NU. Maka di Lampung semua itu ya diatur sehingga saya harus kalah,” ujar Kiai Said dalam podcast bersama Akbar Faizal, sebagaimana dikutip pada Jumat (4/4/2025).
Kiai Said menilai bahwa kekalahan dirinya bukan semata karena dinamika internal organisasi, melainkan ada campur tangan dari kekuatan eksternal yang berpengaruh.
Ia kemudian membandingkan pengalamannya dengan tekanan yang pernah dihadapi Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dalam Muktamar NU tahun 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
“Gus Dur waktu Muktamar Cipasung tahun 1994 juga digitukan oleh Pak Harto. Jangan sampai Gus Dur jadi. Segala kekuatan dengan segala cara dilakukan,” katanya.
Said Aqil mengisahkan bagaimana Gus Dur sempat dicegah naik ke panggung saat pembukaan acara, bahkan dilarang masuk ke tempat istirahat para tamu undangan. Sementara media-media yang mendukung Gus Dur, seperti harian Kompas, dilarang meliput, sedangkan media yang menjelekkan Gus Dur diberi ruang bebas.
“Walhasil, dengan segala kekuatan dan tekanan, tapi Gus Dur kuat, tetap menang. Saya tidak sehebat Gus Dur,” ucapnya.
Meski mengaku legawa atas hasil muktamar, Kiai Said memberikan peringatan keras bagi pihak-pihak yang mencoba mempermainkan Nahdlatul Ulama.
“Ini catatan bagi siapa pun yang mempermainkan NU. Insya Allah ada balasannya,” tegasnya.
Kiai Said menjabat sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode sejak 2010 hingga 2021. Pada Muktamar NU ke-34 di Lampung, ia kalah dari KH Yahya Cholil Staquf yang kemudian terpilih sebagai Ketua Umum PBNU yang baru.[YKP]

