RELUNG.ID – Potensi besar sektor perkebunan kopi di Empat Lawang saat ini belum tergarap optimal. Salah satunya yaitu produksi kopi petik merah.
Produksi kopi petik merah ini masih terbatas dan hanya untuk memenuhi pesanan hotel.
Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Pertanian, Empat Lawang, Hendra Lezi, melalui Kepala Bidang Perkebunan, Robinson, Kamis kemarin (1/5).
Dia mengatakan, produksi kopi petik merah di wilayahnya saat ini masih berdasarkan permintaan khusus. Salah satu konsumen utamanya adalah hotel-hotel yang mencari kualitas kopi terbaik.
Saat ini sudah ada sejumlah petani di wilayah Tebing Tinggi dan Pendopo yang mulai menerapkan metode petik merah, yaitu teknik memetik hanya buah kopi yang benar-benar matang di pohon. Namun, praktik ini belum meluas dan produksinya masih musiman.
“Tapi mereka hanya memproduksi saat masa panen dan itu pun untuk pembeli tertentu saja,” katanya.
Secara umum, pengelolaan kopi oleh masyarakat Empat Lawang masih dilakukan secara tradisional. Petani cenderung memetik seluruh buah dalam satu tangkai, meskipun belum semuanya matang sempurna.
“Saat ini masyarakat memetik buah kopi ketika sekitar setengah atau lebih dari buah dalam satu tangkai telah berwarna merah,” jelasnya.
Meski demikian, perkembangan teknologi di kalangan petani mulai menunjukkan kemajuan. Banyak petani kopi yang kini mulai beralih ke mesin pengolahan mini dengan daya 5 hingga 7 PK. Mesin ini dinilai lebih praktis karena dapat dibawa langsung ke kebun, menggantikan mesin besar yang sebelumnya digunakan dan sulit dipindahkan.
“Ini berbeda dengan sebelumnya, ketika pengolahan masih banyak menggunakan mesin besar yang tidak praktis untuk dibawa ke lapangan,” ujarnya.
Perlu diketahui, perkebunan kopi di Kabupaten Empat Lawang tersebar di seluruh 10 kecamatan, dengan luas total mencapai lebih dari 52.000 hektare.
Potensi ini dinilai sangat besar jika dikelola dengan baik, terutama jika teknik petik merah dapat diperluas dan dipasarkan ke segmen yang lebih luas. (SLM)

