RELUNG.ID-Gedung Kesenian Palembang kembali hidup dan menggeliat oleh semangat para remaja yang menjadikan kuas sebagai alat perjuangan dan warna sebagai bahasa perlawanan.
Dalam rangkaian Bulan Menggambar Nasional 2025, digelar lomba melukis tingkat SMP dan SMA dengan tema yang tajam dan relevan: “Remaja Anti Vandalisme dan Tawuran.”
Puluhan peserta dari berbagai sekolah di Palembang dan sekitarnya hadir sejak pagi, membawa cat, kuas, dan gagasan besar tentang bagaimana generasi muda harus menjadi agen damai, bukan pelaku kekerasan. Tidak sedikit yang datang bersama guru pembimbing atau orang tua sebagai bentuk dukungan penuh terhadap gerakan ini.
Tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Masalah vandalisme dan tawuran pelajar masih menjadi persoalan laten di kota-kota besar, termasuk Palembang. Namun alih-alih hanya mengandalkan seminar atau ceramah, panitia mengajak para remaja menyuarakan sikap mereka lewat media yang mereka cintai: seni lukis.
Beragam karya tampil menggugah, mulai dari lukisan sekolah impian yang bebas kekerasan, hingga gambaran dua remaja yang semula bertikai lalu berdamai dalam pelukan dengan pesan kuat: “Maaf Lebih Kuat dari Marah.” Ada juga lukisan yang menampilkan tembok penuh coretan kekerasan yang perlahan berubah menjadi mural harapan.
Rania (15), pelajar SMP dari Ogan Ilir, mewakili suara banyak remaja saat berkata, “Tawuran itu bukan solusi. Lewat gambar, saya ingin bilang: damai itu keren.”
Kegiatan lomba dilanjutkan dengan sesi melukis bersama komunitas dan pelukis senior Palembang. Anak-anak muda duduk berdampingan dengan para seniman, berbagi tips, teknik, serta semangat yang sama.
Menurut Rudi Maryanto, S.S., ketua pelaksana, kegiatan ini bukan sekadar kompetisi. “Seni adalah bahasa yang bisa menyentuh tanpa melukai. Lewat karya mereka, kita tahu anak-anak ini punya kepedulian, imajinasi, dan kemauan untuk berubah.”
Bulan Menggambar Nasional 2025 di Palembang membuktikan kreativitas bisa menjadi senjata damai. Pesan moral tidak harus disampaikan dengan ancaman, cukup dengan karya yang jujur, kuat, dan lahir dari hati para remaja itu sendiri.
Selain lomba, Gedung Kesenian juga menjadi panggung bagi anak-anak TK dan SD yang ikut lomba mewarnai, tawa mereka menyatu dengan aroma cat air dan krayon. Workshop grafis cetak sablon dari Fajar (Jama Project) membuka wawasan baru, dilanjutkan sesi Anatomi Drawing yang dipandu oleh dua mentor kawakan: Rudi Maryanto dan Asep Hadian.
Peserta pun datang dari luar Palembang, seperti Ogan Ilir dan Banyuasin, menjadikan Gedung Kesenian layaknya “galeri hidup” tempat ide-ide seni menemukan bentuknya dan komunitas gambar menemukan rumah.
Acara ditutup resmi oleh Ketua Dewan Kesenian Kota Palembang, M. Nasir, yang menyampaikan apresiasi tinggi kepada semua peserta, panitia, dan komunitas seni.
“Kita butuh ruang seperti ini, di mana anak muda tak hanya diajak menjauhi kekerasan, tapi juga diberi panggung menyampaikan sikapnya secara kreatif. Ini langkah preventif yang humanis dan mendalam,” ujarnya. (DSK)

